Rajapati, Migrasi dari Beradabisme ke Biadabisme

Ziarah Sunyi
Oleh : Mas@be Zain

maduraindepth.com – Ada sebuah lagu, Salah Apa Aku, pernah viral. Penggalan syairnya, entah apa yang merasukimu…Potongan lirik itu, kontekstual pada saat ini, manusia membunuh manusia, lafdzi atau maknawi. Sesama saudara, sebangsa, setanah air. Ia sengaja, tidak untuk melumpuhkan, tidak untuk membela diri, tidak dalam suasana perang untuk dan atasnama bela bangsa atau agama. Lalu atas nama apa ya? Sepertinya agak susah diurai dengan akal sehat. Sebab manusia yang sehat, umumnya tidak seperti itu, tidak menjadi rajapati.

Maka, ada praduga yang tertelungkup di dasar naluri. Menuanya waktu, mengelindankan antirasa, pada peduli, pada sesama, dalam kantor yang sama atau dalam korps yang berbeda. Apakah menjadi bahagia itu harus membunuh sesama, sulit dirangkai dengan bahasa kita, persatuan itu. Apakah sebegitu rumitnya hidup tenang atau sekedar damai di tanah ini? Apakah negeri ini dilahirkan dari tanah sengketa yang menyebabkan penerusnya selalu bertikai untuk tujuan yang tidak sama?

Apakah sebegitu banyaknya penduduk negeri ini yang mengalami tuna aksara dan menyebabkan dirinya tuna rasa? Ataukah, telah terjadi inkonsepsi jati diri dan menggagalkan definisi yang tidak jelas rumusannya? Dalam kaidah umum, sesuatu yang tidak jelas pada dirinya, dapat memunculkan ketidakjelasan yang muncul dari diri itu pada yang lainnya; apa, siapa, hendak ke mana, untuk apa, untuk siapa, bagaimana caranya?

Orang kaya saja, harus jelas pengertiannya. Ia harus punya definisi yang jelas takarannya. Misalnya, kaya itu apabila sudah memiliki kekayaan setara USD 1 Miliar. Bila sampai pada level itu, kelebihan yang didapat bukan lagi miliknya walaupun berada di tangannya. Bila sampai pada titik itu, tidak berhenti berburu kekayaan, tetapi sesuai konsepsinya, kelebihan dari target itu bukan miliknya; ia milik yang lainnya, sesama marga, manusia. Inilah konsep kaya sebagaimana disampaikan Bill Gates. Orang kaya juga juga harus memiliki margin sesuai rumusan awal yang diyakininya sebagai batasan.

Di negeri ni, orang kaya tidak memiliki rumusannya dan karena itu menumpuk sebanyak-banyaknya. Untuk apa, untuk siapa? Di tanah ini pula, kuasa seakan berjalan tanpa marga. Saat mandat itu diberikan untuk dan atas nama pangkat dan jabatan, kuasa itu seakan-akan berjalan tanpa ambang dan merasa sebagai diri yang dapat melakukan apa saja, termasuk, soal apa yang disebut Sutardji sebagai O Amuk Kapak. Sungguhpun begitu, adegan berlangsung untuk melumpuh, bukan untuk membunuh. Itupun dengan prosedur. Orang lain itu adalah kita dalam tubuh yang berbeda sesuai nafas Bhinneka Tunggal Ika.

Mungkin, banyak yang lupa bahwa negeri ini hanya menyisakan dua hal. Pertama, serdadu. Bagaimana wajah serdadu kita, terlihat baik-baik sajakah pada dirinya sendiri maupun di depan orang lain? Jika serdadu lupa diri dan bergerak di luar garis komando hukum dan institusi, apakah masih bernama serdadu baik tekstual maupun kontekstual? Atau bagaimanakah kita mengekspresikan diri saat melihat kenyataan serdadu yang berarak di tengah semesta sipil dan militer? Bila yang terlihat adalah compang, pasti cambing yang terjadi di dalamnya.

Kedua, negeri ini punya umat yang sama atau berbeda dalam keyakinan yang dipercaya. Bila kondisi umat terburai, maka wajah umat yang di dalamnya, tentu saja terberai. Jika burai-berai terbiar, keberadaan satu sama lain sebagai bangsa jadi tercerai dan bubar jalan. Dari sisi heurmenetika, realitas itu terjadi. Kondisi anak bangsa seperti anak-anak yang sedang berada dalam rumah yang sama. Mereka bermain gadget sendiri-sendiri, asyik dengan dirinya, menikmati hikmah kebijaksanaan dengan caranya sendiri yang lupa pada implikasi dari sebuah teori katak rebus. (*)

* Penulis merupakan akademisi, kolumnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info