Politik Santun dan Tanpa Uang Ala Moh Hasan Jailani

0
185
Moh Hasan Jailani (Tretan Mamak) bersama KH Jakfar Yusuf Abd Wahid, Mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyah, Gersempal Sampang. (Foto: dok Istimewa)

maduraindepth.com – Anti mainstream, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Moh. Hasan Jailani, calon anggota legislatif (caleg) DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil Madura dari PDI-P periode 2019-2024.

Saat politik uang (money politic) menjadi isu hangat di kalangan masyarakat jelang Pemilu serentak 17 April 2019, pria yang akrab disapa “Tretan Mamak” ini tetap konsisten dengan pilihannya, yakni santun dan selalu memberikan edukasi politik kepada masyarakat tanpa harus melakukan praktek money politics.

“Berpolitik tidak harus dengan uang. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat itu percaya kepada calon wakil rakyat,” ujarnya, Sabtu (30/3/2019).

Mantan Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Sampang ini mengatakan, menjadi caleg itu tidak harus pasang baliho, banner dan alat peraga kampanye (APK) lainnya. Namun yang dibutuhkan adalah tekad bulat serta kepercayaan masyarakat.

“Kami berupaya melawan arus besar itu. Sekarang saja ikut kontestasi di parlemen itu perlu dukungan dan kepercayaan masyarakat,” kata caleg nomor urut 8 tersebut.

Mamak mengungkapkan, APK, stiker, desain dan media sosial yang mempromosikan dirinya berasal dari sumbangan teman-temannya.

“Seperti pemasangan APK di Sumenep, saya pribadi tidak tahu siapa yang pasang, tiba-tiba ada wajah saya. Nah Semuanya itu bisa dilakukan layaknya para kontestan lainnya karena masyarakat menginginkan saya maju (nyaleg) dan amanah ini perlu dijaga sebaik-baiknya,” ucap pria yang dikenal ramah ini.

Saat ini, kata Mamak, dirinya hanya menciptakan kepercayaan kepada masyarakat meski gempuran politik terhadap parpolnya sangat luar biasa.

“Banyak yang menilai PDIP ini itu, tapi Alhamdulillah, saya malah dipercaya warga NU. Sekarang ini malah saya diamanahkan menjadi ketua Lembaga Kesehatan NU Sampang. Ya karena saya pribadi tumbuh di kalangan NU dan pernah menjadi pengurus harian di NU,” ungkapnya.

Pihaknya yakin dengan berpolitik santun tanpa ada menghujat, terlebih di media sosial menjadikan politik damai dan bermanfaat untuk masyarakat. Meski begitu, menurutnya hal wajar jika ada kalangan yang mem-bully-nya.

“Saya perintahkan kepada teman-teman agar tidak membully kontestan lainnya, baik di lapangan maupun di medsos. Kalau kita yang dibully, ya kita senyumi saja. Karena masyarakat pasti cerdas memilih. Dan kami yakin masyarakat akan memilih kontestan yang jelas rekam jejaknya,” lanjutnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai wakil Sekretaris PCNU Sampang ini menambahkan, terjun ke dunia politik merupakan pilihan hidupnya. Tetapi bukan kepentingan pribadi.

“Makanya berpolitik itu jangan sekali-kali untuk kepentingan pribadi. Karena jika itu terjadi maka konsekuensinya adalah siap-siaplah untuk ditinggalkan rakyat,” pungkasnya. (AW/mi)