Orang Tua Tak Mampu Belikan Gadget, Rafly Terancam Putus Sekolah

Terancam Putus Sekolah: Rafly, siswa salah satu SMPN di Pamekasan sedang mencari rumput, Kamis (23/7). (Ruk/MI)

maduraindepth.com – Di tengah pandemi Covid-19 seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pamekasan, Moh Rafly terancam putus sekolah karena kesulitan belajar daring. Pasalnya orang tua siswa kelas VIII SMPN 7 Pamekasan itu tidak mampu membelikan gadget karena keterbatasan ekonomi.

Sejak pemerintah memberlakukan pendidikan secara online dan dijalankan oleh sekolahnya, Rafly tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Bahkan, hingga saat ini dia belum mengetahui nama guru yang menjadi wali kelasnya.


Ayahnya, Subairi merasa menyesal lantaran tidak mampu membelikan anaknya gadget. Hal itu karena keterbatasan ekonomi yang dialami keluarganya.

Diakui Subairi, untuk biaya hidup sehari-hari saja masih kesulitan. Apalagi harus membelikan anaknya sebuah android.

“Untuk makan sehari-hari saja kami terbatas, apalagi untuk beli HP, itu diluar kemampuan kami,” ujar Subairi mengeluh, Kamis (23/7).

Dengan keadaan seperti itu, dia merasa sangat sedih lantaran tidak bisa memberi fasilitas anaknya belajar secara daring. Dia hanya memiliki satu telepon genggam jaman dulu (jadul) yang hanya berfungsi untuk telepon dan berkirim pesan singkat atau SMS.

“Kami pasrah, kami sedih karena anak kami tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran daring tersebut,” ucapnya.

“Kami hanya punya HP biasa yang hanya bisa untuk telepon, tidak bisa digunakan untuk sekolah online,” imbuhnya.

Baca juga:  Jumlah Pelanggar Prokes di Pamekasan Tinggi, Kasatpol PP : Sayangi Keluarga Kita

Subairi pernah mengikuti pertemuan dengan pihak sekolah saat mensosialisasikan diberlakukannya pendidikan daring. Namun, baginya pihak sekolah tidak memberikan solusi bagi anaknya untuk mengikuti kelas online.

Padahal, kemampuan ekonomi keluarganya masih sangat terbatas. Lagi-lagi, Subairi mengaku tidak mampu membelikan anaknya sebuah gadget.

“Pihak sekolah menyarankan untuk pinjam. Iya kalau anak saya dikasih pinjaman, itu kan HP juga digunakan mereka belajar. Lagian jarak rumah anak saya dan teman-temannya sangat jauh,” tutur Subairi.

Rafly, kata ayahnya, kesehariannya mencari rumput untuk makan sapi milik orang lain. Hal itu dilakukan anaknya agar mendapat upah dan meringankan beban orang tuanya.

“Untuk mengisi hari-harinya di rumah dia membantu saya mencari rumput, guna dikasihkan pada sapi orang lain dan mendapatkan upah sedadanya,” pungkasnya. (RUK/MH)