Objek Wisata di Sumenep Masih Bersifat Spekulatif

0
30
Kabid Pariwisata Disparbudpora Sumenep, Imam Buchari. (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Banyaknya objek wisata swasta yang ada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, bersifat spekulatif. Hal itu membuat Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep harus melakukan pendataan.

Pasalnya, Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Disparbudpora, Imam Buchari, menerangkan, jika objek wisata swasta, dalam hal ini disarankan lebih baik mengedepankan pengelolaan objek wisata terlebih dahulu, sembari berjalan mengurus izin.

Pasalnya, dikatakan oleh, Imam, terkait dengan pembangunan objek wisata swasta lebih spekulatif sifatnya, berbeda dengan pembangunan yang lain.

“Kenapa dibilang spekulatif ? Karena bisa jadi setelah dibangun tidak jalan, kayak Goa Soekarno, untungnya berjalan. Artinya lebih kepada spekulasi, ketika dikedepankan persyaratan ijin, yang terjadi nantinya pengembangannya seret, tidak ada orang yang berani berinisiatif dan berkreasi,” katanya, Senin (21/10).

Selain itu, orang yang sudah menemukan dan membangun wisata yang baru, kata Imam, mereka disibukkan dengan perizinan, disisi lain dengan pemasaran dan perbaikan sarana yang ada, sehingga bebannya lebih berat.

“Makanya, untuk pengembangan objek wisata yang baru itu silahkan dulu, nanti perizinan bisa nyusul. Agar ruang untuk masyarakat berkembang terlibat dalam wisata itu ada,” timpalnya.

Seperti diketahui, salahsatu wisata yang ada di Sumenep, yakni terkait wisata buatan meliputi wisata tektona, water pack, bukit tinggi, TSI, juga termasuk Goa Soekarno. Hal itu tidak dikelola Pemerintahan Daerah.

“Untuk membangun di sebuah kawasan objek wisata, kita tidak bisa sekarang. Karena salahsatu persyaratan bangunan pemerintah itu dibangun di atas tanah milik negara,” terangnya.

Imam, mengungkapkan, objek wisata tidak melalui belanja hibah. Dikhawatirkan jika menggunakan belanja hibah, objek setelah dibangun lalu diserahkan kepada pemilik tanah. Hal itu, ditakutkan difungsikan tidak sebagaimana tujuan awal.

“Sementara ditegur sudah milik dia, karena sudah dihibahkan, kan jadi percuma. Makanya sekarang, sebelum melakukan pembangunan didahulukan ada pembebasan tanah,” paparnya.

Imam, juga mencontohkan bagaimana pembangunan objek wisata di kepulauan Giliang dengan mengutamakan pembebasan lahan terlebih dahulu.

“Itu dilakukan di Giliang, disana tahun 2018 kita melakukan pembebasan tanah, akses jalan dari lingkar paving yang di bangun BPS menuju Beto Cangge, rencananya akhir tahun ini pembebasan di sekitar area Beto Cangge.nya, karena itu sudah menjadi milik negara,” tandasnya. (MR/AJ)