Menengok Sisi Lain Moh Aksan, Kepala Desa yang Hobi Ternak Perkutut

maduraindepth.com – Berawal dari hobi memelihara burung perkutut, kini burung piaraan milik Moh. Aksan telah mencapai 200 pasang. Pria yang juga menjabat Kepala Desa Pengarengan itu berharap, tahun 2021 Kabupaten Sampang menjadi sentra perkutut Nasional.

Menurut Ketua bidang budidaya Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) Jawa Timur tersebut, mayoritas masyarakat Jawa Timur khususnya Madura, memiliki hobi memelihara perkutut. Sebab, kata Aksan, burung perkutut merupakan bagian dari budaya yang memiliki sejarah dari peninggalan Majapahit sebagai cinderamata kepada kerajaan Thailand.


“Kedepan kami akan membuat wisata burung perkutut, dan kami sudah mengonsep program tersebut, sehingga selain kita dapat mempertahankan budaya perkutut juga dapat mengangkat potensi kabupaten Sampang lainnya,” katanya, Senin (10/8).

Potensi Mengangkat Nama Sampang

Dia menjelaskan, burung perkutut yang ada di tingkat internasional juga merupakan perkutut yang telah dibudidaya dari Indonesia. Bermula dari Jawa Timur kemudian berkembang ke Jawa Barat dan akhirnya berkembang luas ke seluruh pelosok Nusantara.

“Maka dari itu hal ini sangat berpotensi mengangkat nama Sampang,” ujar Aksan yang juga menjabat sebagai ketua asosiasi kepala desa (AKD) Kecamatan Pangarengan.

Ditambahkannya, dalam pemeliharaan perkutut memiliki beberapa masa dengan 40 persen untuk perlombaan, 20 persen untuk rumahan dan 40 persen lagi untuk budidaya. Pecinta perkutut diindonesia terdiri beberapa suku yakni dari suku Banjar, Melayu dan China.

Baca juga:  Nekat Adakan Orkes Pernikahan di Sampang, Harus Bayar Denda Segini

Dia menceritakan, pada pertengahan Tahun 1800, Sultan Hamengku Buwono VII “ngirek” atau memperlombakan burung perkutut kepada kalangan bangsawan sebagai ajang silaturrahmi. Tradisi ini berjalan hingga saat ini. Bahkan, tutut Aksan, dalam setiap kunjungannya ke kerajaan lain, Sultan Hamengku Buwono VII kerap kali memberikan cinderamata berupa sepasang burung perkutut.

“Madura ini mulai tahun 2012 oleh P3SI Pusat dicanangkan jadi sentra perkutut Nasional, dengan dasar pecinta perkutut 20 persennya berasal dari suku Madura, ditambah iklim tropis Madura sangat cocok untuk membudidaya burung perkutut,” tuturnya.

Saat ini, imbuh Aksan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk berternak perkutut, sehingga budaya perkutut bisa terus dipertahankan dan menambah penghasilan bagi masyarakat.

“Karena selain sebagai ajang silaturrahmi, burung perkutut juga bisa dijadikan sebagai media wisata di Pulau Madura, khsususnya Kabupaten Sampang,” pungkasnya. (RIF/AW)