Kisah Nenek Jumanti: Hidup Sebatang Kara, Tidur Beralas Tanah

Nenek Jumanti Sumenep
Nenek Jumanti harus menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

maduraindepth.com – Nenek Jumanti hidup sebatang kara di pinggiran Kota Sumenep. Dia tinggal di Dusun Gunggung Timur, Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Madura.

Nenek yang diperkirakan berusia 60 tahun tersebut hidup serba kekurangan. Rumah yang ditinggalinya hanya beralaskan tanah dengan kondisi dapur sudah roboh.

Di usianya yang tidak muda lagi, Nenek Jumanti terus berusaha bertahan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia bekerja sebagai pemulung. Dari pekerjaan inilah, nenek yang hidup sebatang kara ini bisa mengais rezeki.

Belum Mendapat Bantuan dari Pemerintah

Selama 12 tahun terakhir, Nenek Jumanti mengaku belum pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah setempat.

Nenek Jumanti memang tercatat sebagai penerima manfaat beras sejahtera (Rastra) di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Namun dalam beberapa bulan terakhir dirinya tidak lagi menerima bantuan tersebut.

“Saya bulan puasa itu ke Balai desa untuk mengambil beras, ternyata di sana berasnya sudah tidak ada, sudah ada yang ngambil kata petugasnya,” ungkap Nenek Jumanti sambil meneteskan air mata, Sabtu (6/7/2019).

Saat ditanya soal Program Keluarga Harapan (PKH) maupun program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Nenek Jumanti mengaku tidak tahu soal itu.

Hingga saat ini, pemerintah setempat belum pernah memperhatikan kondisi Nenek Jumanti. Bahkan untuk sekedar datang ke rumah perempuan tua itupun belum pernah dilakukan.

Warga Gotong Royong Memperbaiki Rumah Nenek Jumanti

Informasi yang dihimpun maduraindepth.com dari warga setempat menyebutkan, rumah nenek Jumanti sangat tidak layak huni. Kalau musim hujan, dia harus tidur di pojok rumahnya karena atapnya yang bocor.

Karena tak kunjung ada perhatian dari pemerintah, salah seorang warga inisial CTR tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban Nenek Jumanti. Melalui Didik Haryanto warga setempat, sang dermawan tersebut memberikan bantuan berupa uang untuk memperbaiki rumah si nenek.

“Diharapkan bantuan itu bisa meringankan beban Nenek Jumanti,” ujar Didik.

Didik berharap kepada semua pihak, terutama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep agar memperhatikan kondisi Nenek Jumanti yang sangat memprihatikan.

Meski tanpa bantuan Pemerintah Desa (Pemdes) maupun Pemkab setempat, saat ini perbaikan rumah Nenek Jumanti masih dilakukan.

Salah satu warga setempat mengatakan, perbaikan rumah Nenek Jumanti sudah dilakukan sejak Senin 1 Juli 2019. Sementara dananya bersumber dari swadaya masyarakat.

“Ini murni dari sumbangan teman-teman dan pengusaha, termasuk dari pribadi tiga orang pejabat daerah inisial Nv, Er dan Zkn,” ucap Warga yang tidak mau disebut namanya.

Padahal, ucap dia, jika setiap pejabat seperti Kepala Dinas, Kasi dan Kabid mau menyumbangkan dana walaupun sedikit mungkin perbaikan rumah Nenek Jumanti bisa teratasi tanpa harus menunggu bantuan dari Pemerintah yang butuh waktu lama,” kata dia.

Pemerintah Desa Masih Menutup Mata

Perbaikan rumah Nenek Jumanti diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 18 juta. Sedangkan dana yang terkumpul sampai hari ini masih berkisar Rp 6 juta lebih.

“Sementara masih ada kekurangan sekitar 11 juta lebih,” tuturnya.

Sementara itu, meski renovasi rumah Nenek Jumanti dalam pengerjaan, Pemdes setempat tetap saja masih menutup mata.

Dari hari pertama perbaikan rumah dikerjakan, sampai hari ini Pemdes setempat belum melihat kondisi Nenek Jumanti. Bahkan belum menyumbangkan bantuan, baik berupa tenaga maupun secara finansial.

“Sampai detik ini pihak desa belum ada yang turun, bahkan saya sempat ke RT minta tolong untuk pekerjaannya namun tidak ada tanggapan,” timpalnya. (MR/MH/AW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info