Ketua FPRB Sampang: Pembentukan Sanggub di Ponpes Assirojiyyah Pertama di Jawa Timur

Ketua FPRB Sampang Moh. Hasan Jailani (Mamak) saat memeberikan pembekalan kepada santri tangguh bencana (Sanggub) di Ponpes Assirojiyyah Kajuk, Sampang, Kamis (18/8). (FOTO: Agus Wedi/MI)

maduraindeph.com – Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sampang, Moh Hasan Jailani mengatakan, pembentukan Santri Tangguh Bencana (Sanggub) di Ponpes Assirojiyyah, Kajuk, Sampang merupakan pertama kali di Jawa Timur. Hal ini disampaikan saat mengisi pembekalan Sanggub di Ponpes yang berlokasi di jalan Pemuda 52 C Sampang itu.

“Deklarasi Sanggub ini sudah diakui di tingkat Jawa Timur. Bahwa, cikal-bakal Sanggub itu di Ponpes Assirojiyyah Kajuk Sampang,” ujarnya, Kamis (18/8).

Mamak mengatakan, saat ini Sanggub mulai diduplikasi oleh beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Sebab, Jawa Timur merupakan basis Nahdliyin dan Pondok Pesantren.

“Makanya santri atau santriwati harus punya kelebihan mengenal dan menyikapi soal kebencanaan,” sambungnya.

Menurutnya, dengan banyak terbentuknya Sanggub di Jawa Timur, maka semakin besar jejaring santri. Dengan begitu, akan membentuk kekuatan besar dalam upaya pengurangan risiko bencana untuk lingkungan Ponpes dan warga sekitar.

“Harus kita dorong bersama agar Pondok-pondok besar di Jawa Timur, khususnya madura, supaya membentuk dan mendirikan Sanggub,” katanya.

Ia menambahkan, konsep pentahelix sangat penting diketahui oleh para santri dalam upaya penanganan isu kebencanaan. Pentahelix, jelas dia, basisnya di komunitas. Di dalamnya ada unsur pemerintah, masyarakat, media, pengusaha dan akademisi.

“Nah, santri ini juga komunitas. Jadi kami kenalkan konsep pentahelix dalam isu pengurangan risiko bencana agar bisa berkolaborasi dengan semua unsur, baik saat mitigasi pengurangan bencana atau bahkan saat bencana,” paparnya.

Sanggub Ketiga

Sementara, panitia pelaksana Sanggub Ponpes Assirojiyyah, Kajuk, Sampang, Nur Amin mengatakan, kegiatan Sanggub saat ini merupakan ketiga kalinya dan melibatkan kurang lebih 123 santri. Mereka dibekali materi praktik penanganan kebencanaan.

“Di wilayah Kajuk sudah diketahui bersama yaitu salah satu daerah rawan banjir. Namun ketika sudah ada Sanggub, para santri sudah lebih sigap menghadapinya,” ujarnya.

Tidak hanya untuk kepentingan di internal Ponpes, kata Nur Amin, keberadaan Sanggub juga memberikan dampak kepada warga setempat, terutama saat bencana banjir terjadi di wilayahnya.

“Ketika ada warga sekitar membutuhkan tenaga santri ketika ada banjir, santri-santri alhamdulillah sudah siap jadi relawan membantu warga sekitar,” akunya.

Peserta Sanggub diberikan pembekalan materi kebencanaan oleh sejumlah pihak. Diantaranya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Sampang.

“Selain itu, para santri juga diajari tata cara mengurus jenazah,” ungkap Nur Amin. (AW/MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info