Jalan Kaki, Ibu Nawwir Jualan Lopes Keliling Kabupaten Sampang

    Ibu Nawwir Jualan Keliling Sampang
    Ibu Nawwir, saat melayani para pembeli di sekitar Jalan Panglima Sudirman Sampang. (FOTO : Alimuddin/MI)

    maduarindepth.com – Usia tidak menjadi faktor utama untuk berhenti berjuang mengais rezeki. Seperti yang dilakukan Ibu Nawwir. Meski usia sudah 75 tahun, perempuan asal Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu tetap berjualan lopes keliling dengan berjalan kaki.

    “Saya sudah biasa jalan kaki, soalnya tidak tahu bersepeda,” ucap perempuan lanjut usia tersebut pada maduraindepth.com, disela-sela melayani pembeli, Sabtu (16/1).


    Ia menekuni pekerjaan itu selama 30 tahun. Namun demikian, nenek yang memiliki 11 anak tersebut tetap bersemangat berjualan meski usia sudah tidak muda lagi. Ia berjibaku dengan kondisi cuaca panas dan hujan. Semangatnya tak putus meski harus mengelilingi setiap sudut jalan Kota Sampang.

    “Hampir 30 tahun saya jualan ini,” katanya.

    Perempuan usia lanjut itu tak pernah merasa lelah, meski terkadang ia harus menghabiskan jualannya dari jam 8 pagi. Ia hanya bisa pulang ke rumah sampai barang dagangannya laris. Dalam sehari ia bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp 60 sampai 100 ribu.

    “Iya saya tidak akan pulang kalau dagangan ini belum habis, meski dapat uang sedikit,” ucapnya.

    Seakan tidak memiliki waktu untuk menggerutu, apa pun petaka yang menjagal, ia tetap bertekad untuk tidak pernah berhenti mencari nafkah demi keluarga tercintanya.

    Terlihat saat melayani pelanggannya, ia selalu tersenyum menandakan semangat juang hidup dan keramahan untuk sesama. Tangan yang mulai keriput dengan wajah yang menua tak menandakan sedikitpun lelah untuk ia gapai kebahagiaan.

    Baca juga:  Tak Mengenyam Pendidikan, Anak 12 Tahun Asal Sumenep Juara 1 Fashion

    Ia terkadang harus berhenti sejenak untuk istirahat. Menghilangkan rasa capeknya karena seharian berjalan kaki keliling kota dengan menggendong jualannya.

    “Terkadang saya istirahat sebentar, kadang di masjid, musala, bahkan di pinggir jalan, menghilangkan rasa lelah saja,” tutur Ibu Nawwir.

    Cara ia berjualan hanya dengan alat suara, teriak, agar ada orang untuk membelinya. Terus menyisir di setiap jalan sembari menawarkan barang dagangannya ke setiap rumah warga yang ia lewati. “Jhelkong -jhelkong manis,” teriaknya saat menjual di jalanan.

    Kisah Ibu Nawwir boleh jadi secuil berkah di tengah keterbatasan usia dan fisik. Namun hal itu tak mengendurkan semangatnya untuk tetap hidup dan menafkahi keluarganya di rumah. Panas matahari membentang sejauh mata memandang. Ibu Nawwir seolah tak mengenal kata getir dalam kamus hidupnya.

    “Saya tetap bersyukur dengan kondisi sekarang ini, meski hanya cukup buat makan sama keluarga di rumah, soalnya kalau tidak jualan tidak bisa makan,” ujarnya. (Alim/MH)