Hari Masyarakat Adat Internasional, Gubernur: Ribuan Potensi Kebudayaan di Jatim Harus Dijaga

peringatan hari masyarakat adat internasional di jawa timur
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional. (Foto: Kominfo Jatim)

maduraindepth.com – Memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional, Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengajak masyarakat termasuk generasi muda untuk ikut berperan aktif dalam upaya perlindungan dan pelestarian budaya dan  adat istiadat asli Jawa Timur. Ajakan itu disampaikan gubernur saat peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional yang diperingati setiap 9 Agustus.

“Tugas melindungi budaya warisan leluhur bukan hanya kewajiban para tokoh masyarakat adat, namun harus didukung oleh seluruh masyarakat di sekitarnya. Sehingga, ini menjadi kewajiban kita bersama,” ungkapnya, Rabu (9/8).

Khofifah mengatakan, adat istiadat dan budaya penting dilestarikan terlebih di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Menurut dia, banyak generasi muda yang lebih dekat dengan budaya asing.

“Generasi muda perlu digerakkan untuk ikut melestarikan adat istiadat dan budaya. Sebagai upayanya yaitu dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah, napak tilas kebudayaan, tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing. Harapannya, nilai adat istiadat serta kebudayaan dapat terus terjaga dan lestari,” urainya.

Diterangkan, keberadaan masyarakat adat di Jawa Timur sangat beragam. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, tercatat enam suku besar tersebar di seluruh penjuru Bumi Majapahit, yaitu Suku Jawa, Suku Madura, Suku Tengger, Suku Osing, Suku Samin dan Suku Bawean.

Suku Jawa sebagai mayoritas, terbagi dalam beberapa etnis yaitu etnis Mataraman yang terbagi menjadi Mataraman Kulon (Pacitan, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo) dan Mataraman Wetan (Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Blitar, Madiun). Kemudian etnis Arek yang berpusat di Surabaya Raya dan Malang Raya.

Baca juga:  Kabar Baik, 38 Pasien Covid-19 di Jawa Timur Sembuh

Sedangkan Suku Madura juga terbagi menjadi etnis Madura Pulau (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Kemudian, Madura Pandhalungan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Jember).

Selain itu, terdapat Suku Tengger yang menempati wilayah lereng Gunung Bromo, Suku Osing di Banyuwangi, Suku Samin di Bojonegoro dan Suku Bawean di Pulau Bawean. Beragamnya suku yang ada di Jawa Timur, lanjut Khofifah, sebagai kekayaan budaya yang bisa menjadi potensi tersendiri.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, terdapat total 7.105 potensi kebudayaan yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. Jumlah tersebut terdiri atas 134 bahasa, 598 manuskip, 237 ritus, 645 teknologi tradisional, 631 olahraga tradisional, 1.214 tradisi lisan, 713 adat istiadat, 710 pengetahuan tradisional, 305 permainan tradisional dan 1.918 kesenian.

Dengan ribuan potensi tersebut, Khofifah meyakini, jika seluruh masyarakat mau bersama untuk melindungi dan melestarikan, maka perekonomian Jatim pun bisa merasakan dampaknya. “7.105 potensi kebudayaan itu bukan jumlah sedikit. Siapa lagi yang bisa menjaganya kalau bukan kita sebagai warga Jawa Timur,” tegasnya.

“Jika potensi itu bisa kita jaga bersama, bahkan dikembangkan, maka akan memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat di sekitarnya, utamanya di sektor perekonomian,” pungkas Khofifah. (*)

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya DI SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *