Dinkes P2KB Sumenep Dorong Puskesmas Terapkan Pelayanan ILP

Dinkes p2kb sumenep posyandu ilp puskesmas
Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah menghadiri acara launching posyandu ILP Puskesmas Pamolokan di Balai Desa Pangarangan, Rabu (15/5). (Foto: Arif/MID)

maduraindepth.com – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep menciptakan terobosan baru mengenai pelayanan kesehatan. Inovasi tersebut, berupa integrasi layanan kesehatan yang dipadukan melalui Posyandu, Pustu dan Puskesmas.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah menjelaskan, program ini disebut integrasi layanan primer (ILP). Penerapannya, dimulai dari yang paling bawah, yaitu posyandu. Kemudian dilanjutkan ke tingkat puskesmas pembantu (Pustu) hingga ke puskesmas induk.

“ILP ini, wajib dilaksanakan oleh semua puskesmas,” ungkapnya.

Program ILP, sebenarnya sudah diberlakukan mulai tahun 2023. Mengenai itu, masing-masing puskesmas yang ada di kota keris, secara bertahap terus berproses merealisasikan terobosan program kesehatan tersebut.

“Jadi, sekarang tidak ada lagi istilah posyandu balita, lansia, atau bahkan remaja. Karena, sudah dijadikan satu, yaitu posyandu ILP,” katanya.

Dalam kegiatan posyandu ILP, sasarannya meliputi semua siklus kehidupan. Meliputi ibu hamil, balita, remaja, sampai lansia. Melalui program ini, skrining kesehatan dianggap lebih komprehensif dan terpantau maksimal.

“Tujuan dari ILP, adalah untuk keberlanjutan layanan,” ujarnya.

Bagi yang mengalami masalah kesehatan resiko tinggi, akan dilakukan pemantauan serta intervensi lebih lanjut. Sehingga, kesehatan masyarakat dari berbagai siklus kehidupan, bisa semakin terjaga.

“Untuk penerapannya, masih bertahap. Target kami, tahun 2027 nanti, semua puskesmas sudah menerapkan ILP,” ucapnya.

Baca juga:  Masyarakat Enggan ke Puskesmas Takut Divonis Corona, Pasien Rawat Inap Turun Drastis

Khusus di puskesmas, kata Ellya, target ke depan tidak perlu menerapkan pelayanan berbasis poli. Tetapi, langsung memberlakukan pelayanan berbasis klaster atau siklus kehidupan.

“Kalau level puskesmas, bisa sambil lalu berproses. Untuk awal, bisa dimulai dari tingkat posyandu, sebagai garda terdepan,” terangnya.

Ellya menyadari, perubahan paradigma pelayanan kesehatan, membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar diterima dan dipahami oleh masyarakat. Maka dari itu, dalam prosesnya juga diperlukan usaha keras dari masing-masing puskesmas.

“ILP tidak semudah itu. Butuh kader untuk dilatih, agar bisa menerapkan,” jelasnya.

Sampai sekarang, dari 30 puskesmas di Kabupaten Sumenep, secara keseluruhan mulai memberlakukan posyandu ILP. Satu di antaranya, yaitu Puskesmas Pamolokan, menggelar launching posyandu ILP.

“Sebenarnya, tidak harus dilakukan launching. Tetapi, saya mengapresiasi terobosan yang dilakukan Puskesmas Pamolokan. Karena, sudah menggelar launching,” imbuhnya.

Kepala Puskesmas Pamolokan drg. Novia Sri Wahyuni mengatakan, tujuan dari launching posyandu ILP itu, adalah untuk memaksimalkan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga, lebih cepat diterima dan dipahami terkait penerapannya.

“Ini sebagai upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus memaksimalkan pelayanan kesehatan,” jelasnya saat menggelar launching posyandu ILP di Balai Desa Pangarangan, Rabu (15/5). (bus/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *