Dari Banyuwangi ke Sampang Jual Buah, Tiga Hari Laku 2 Ton

Penjual Buah di Sampang
Dwi Prasetyo (36), penjual buah naga asal Desa Tegal Sari, Kecamatan Tegal Sari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur saat melayani pembeli dari Kodim 0828/Sampang, Sabtu (16/1). (FOTO: Arief Tirtana)

maduraindepth.com – Di Kabupaten Sampang, Madura, saat ini marak penjual buah yang menjajakan dagangannya di tepi jalan. Rupanya, cara mereka berjualan banyak diminati oleh masyarakat di Kota Bahari dibanding buah yang dijual di kios atau lapak.

Bukan tanpa sebab, masyarakat banyak membeli buah dari penjual asongan tersebut karena harganya lebih murah. Menariknya, penjual buah yang menjajakan dagangannya tersebut merupakan warga dari luar Kabupaten Sampang.


Salah satunya adalah Dwi Prasetyo. Dia merupakan pedagang buah naga asal Desa Tegal Sari, Kecamatan Tegal Sari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lelaki 36 tahun itu berjualan buah di Kabupaten Sampang, Madura.

Lelaki yang karib disapa Dwi itu menyampaikan, harga jual buah naga miliknya berbeda dengan buah yang dijual di kios-kios pedagang lainnya. Sebab buah yang dijual tersebut dikulak dari petani hingga pengepul.

“Kalau hanya dari petani kurang banyak untuk dijual di Sampang, jadi harus kulakan dari pengepul juga,” ucap mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Makau, China tersebut pada maduraindepth.com, Sabtu (16/1).

Dwi mengungkapkan, untuk menjual buah naga di Kabupaten Sampang pihaknya harus menyiapkan buah sebanyak dua ton. Menariknya, barang dagangannya tersebut laku terjual dalam jangka waktu tiga hari saja.

“Dua ton itu bisa habis hanya dalam tiga hari,” ucapnya.

Baca juga:  Tahun Ini Kasus Narkoba di Bangkalan Meningkat, Kapolres: 2020 Kita Berantas

Dia mengungkapkan, alasan berjualan buah di kabupaten berjuluk Kota Bahari ini karena permintaan buah sangat tinggi. Sehingga memilih Sampang sebagai pasar dibanding daerah-daerah lainnya di Jawa Timur.

“Awalnya hanya di kawasan-kawasan Banyuwangi, terus beranjak ke Kabupaten Pamekasan, lalu ke Sampang yang alhamdulillah peminatnya cukup tinggi,” terangnya.

“Di Sampang pun saya sempat berpindah-pindah, mulai dari Kecamatan Kedungdung, Kecamatan Omben hingga terakhir di Kecamatan Kota sampai saat ini,” sambungnya.

Menurutnya, selama berjualan di Kecamatan Kota Sampang, tempat yang paling strategis di depan Bank BRI. Dia berjualan di tempat itu mulai pukul 09.00 WIB hingga 21.00 malam.

“Selama dagangan masih ada saya menginap di Sampang, ada kontrakan. Kalau dagangan habis baru pulang ke Banyuwangi untuk kulakan,” katanya.

Lebih lanjut Dwi menyebutkan, untuk harga buah naga ukuran A, B dan C bervariatif. Dari semua ukuran dirinya mengaku hanya mengambil keuntungan Rp 5 ribu per kilogram.

“Tapi kalau harga kulakan meninggi, saya gak kulakan, karena pembeli pasti berkurang. Kalau harga terjangkau baru saya kulakan,” terangnya.

Dwi jualan buah secara musiman. “Kalau musim kates (pepaya) ya jual kates, kalau semua buah musim, ya saya bawa semua,” tandasnya. (RIF/MH)