maduraindepth.com – Persoalan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sumenep tidak semata soal keterbatasan modal. Kemasan produk dan strategi pemasaran yang masih konvensional menjadi hambatan utama menembus pasar modern. Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Bhakti Sumekar menggandeng Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Wiraraja (Unija).
Kolaborasi itu diwujudkan melalui Talk Show Kewirausahaan yang digelar di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Minggu (25/1/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas UMKM, khususnya dalam aspek branding dan pemasaran visual.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengatakan sebagai badan usaha milik daerah (BUMD), pihaknya tidak ingin hanya berperan sebagai penyedia pembiayaan. Menurut dia, perbankan daerah harus terlibat aktif dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan.
“Kami menyiapkan pembiayaan syariah sebagai bahan bakar agar UMKM bisa naik kelas. Tapi itu tidak cukup tanpa dukungan kualitas produk dan pemasaran yang memadai,” kata Hairil Fajar di sela kegiatan.
Ia menilai banyak produk lokal Sumenep memiliki kualitas rasa dan mutu yang kompetitif. Namun, produk tersebut kerap kalah bersaing di rak ritel modern akibat tampilan kemasan yang kurang menarik dan belum mencerminkan nilai jual produk.
Karena itu, keterlibatan akademisi menjadi penting. Melalui kolaborasi dengan DKV Unija, pelaku UMKM diharapkan memperoleh pendampingan dalam penguatan identitas merek, desain kemasan, hingga pembuatan konten kreatif berbasis video untuk pemasaran digital.
“Kontribusi desain visual sangat vital. Branding yang kuat dapat meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan pasar yang semakin ketat,” ujar Hairil.
Kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi berkelanjutan. Mahasiswa DKV didorong untuk terlibat langsung mendampingi UMKM, sementara BPRS Bhakti Sumekar mengawal dari sisi pembiayaan dan stabilitas usaha.
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sumenep yang lebih inklusif. Dengan penguatan branding dan akses pembiayaan, produk-produk lokal diharapkan tidak hanya bertahan di pasar daerah, tetapi mampu bersaing di tingkat nasional dengan tampilan yang lebih profesional. (*/MH)














