Adik Direktur RSD Ketapang Masuk Daftar Korban Pesawat Sriwijaya SJ-182

Fadly Satrianto
Fadly Satrianto (kanan), salah satu korban jatuhnya pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182 foto bersama keluarga. (FOTO: dr Juan Setiadi Zenniko For MI)

maduraindepth.com – Nama Fadly Satrianto masuk dalam daftar manifest penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di urutan 40. Pemuda tersebut merupakan adik dari Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Ketapang Sampang dr Juan Setiadi Zenniko.

Fadly dipastikan ikut berada dalam penerbangan pesawat boeing 737-500 tersebut yang mengalami musibah hilang kontak dan terjatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1). Pria kelahiran Surabaya 6 Desember 1992 tersebut terbang ke Pontianak untuk melaksanakan tugas.


Dia diketahui berprofesi sebagai Kopilot pesawat Nam Air (Sriwijaya Group). Mendengar informasi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 hilang kontak, dr Juan Setiadi Zenniko atau akrab disapa Dokter Niko langsung mencoba menghubungi adiknya. Berkali-kali, namun tidak aktif.

Dokter Niko kemudian berupaya menghubungi orang tuanya. Dari situlah, dia mengetahui jika Fadly yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara itu terbang ke Pontianak menggunakan maskapai penerbangan Sriwijaya Air.

Sejak SD hingga menimba ilmu di perguruan tinggi, Fadly tinggal di Surabaya. Kemudian tahun 2015 lalu, korban mulai bergabung dengan AirNav sebagai grand officer dengan sertifikat pilot singel engine.

Fadly sebelumnya menempuh pendidikan Sekolah Pilot Singel Engine Cessna AirNav Nam Air. Setelah itu, lanjut Sekolah pilot Airbus AirNav Nam Air. Sekitar 2017, korban mulai berdinas pada maskapai Nam Air sebagai kopilot dan berdomisili di Jakarta.

Baca juga:  Lagi, Tujuh Penganut Syiah Ikrar Kembali ke Aswaja
Pilot Sriwijaya Air SJ-182
Kopilot Nam Air Fadly Satrianto, salah satu korban jatuhnya pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182.

Dokter Niko menjelaskan, adiknya setiap hari selalu menghubungi orang tuanya. Pagi pada hari kejadian pesawat jatuh, Fadly masih sempat memberi kabar. Meminta restu kepada kedua orang tua untuk terbang.

“Seperti biasa, setiap mau melakukan aktifitas dia menghubungi orang tua. Sempat bilang kangen sama orang tua,” ucap dokter spesialis anak itu, Senin (11/1) saat dihubungi maduraindepth.com melalui saluran telpon.

Bahkan, lanjut dia, sehari sebelum musibah juga sempat telpon sang ibunda hingga empat kali. Namun tidak membicarakan apa-apa. “Sempat chatingan juga dengan saya sehari sebelumnya,” kata Dokter Niko.

Pemuda 28 tahun yang ikut menjadi korban tragedi jatuhnya pesawat itu dikenal sebagai sosok yang ceria, pekerja keras, dan tekun. “Serta sangat menghormati orang tua dan kakak-kakaknya,” tutup dia. (BAD/MH)