Slaman dan Hutan Mangrove Selamatkan Desa Lembung dari Abrasi Pantai

Slaman dan Hutan Mangrove
Ekowisata Hutan Mangrove yang rimbun di Desa Lembung, Galis, Pamekasan. (Foto: RUK/MI)

maduraindepth.com – Pada tahun 1986-an Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura terancam musnah akibat abrasi. Air laut perlahan mengikis bibir pantai dan menghancurkan tambak sekitar. Bahkan saat gelombang laut meninggi air laut naik ke rumah warga.

Ancaman kerusakan ekosistem kala perubahan iklim semakin menghawatirkan bagi warga setempat. Hal itu disampaikan oleh Slaman (51) salah seorang warga Desa Lembung, Pamekasan,
Selasa, (21/7).


“Air laut saat pasang masuk ke dapur dan rumah warga. Jika dibiarkan yang jelas warga Lembung tidak akan bertahan,” kata Slaman, bercerita pada wartawan maduraindepth.com.

Untuk menjaga desanya dari kerusakan akibat abrasi waktu itu, membuat Slaman menekuni perluasan hutan mangrove atau yang disebut dengan hutan bakau.

Pada awal penanaman, Slaman mengaku, pada tahun 1986-an dirinya mengikuti ayahnya menanam satu sampai tiga mangrove di bibir pantai. Sampai kini, di tahun 2020 hutan mangrove seluas 46 hektar dan air tidak kembali naik ke rumah warga

“Saya merawat mangrove sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Waktu itu, saya kelas IX,” tuturnya.

Tidak hanya menyelamatkan lingkungan, hutan mangrove mendapatkan berbagai penghargaan setelah dibentuknya komoditi kopi mangrove pada tahun 2012. Yakni, menjadi perwakilan pada ajang AMD (Anjang Kontes Modifikasi) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia di Jakarta pada tahun 2013.

Baca juga:  Besok, Aliansi Mahasiswa Sumenep Turun Jalan Kepung Kantor DPRD

Sejak meraih juara 1 tingkat nasional kategori Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, penghargaan dari KKP dan sampai saat ini warga sekitar hutan mangrove tetap produktif. Mereka membuat kopi dari buah pohon mangrove yang disebut dengan kopi malam Jum’at.

“Pada tahun 2012 kami membuat komoditi kopi mangrove yang terus bereksperimen (dari pohon mangrove),” ucap dia.

“Dari berbagai penikmat kopi mangrove mengaku mendapat efek yang bermacam-macam, ada yang tidak bisa tidur bahkan ada yang mengaku bertambah kejantanannya,” tambah Slaman.

Kerendahan Hati Slaman dalam Menjaga Hutan Mangrove

Slaman dan Hutan Mangrove
Slaman, sang penyelamat. (Foto : RUK/MI)

Slaman mengatakan tidak mudah menjaga hutan mangrove apalagi pernah ada pembakaran posko atau gubuk di area mangrove. Bahkan ada yang mencabut bibit mangrove yang ditanam oleh kelompoknya.

Namun kejadian tersebut, tidak membuat Slaman menyerah dalam menjaga dan terus melestarikan hutan mangrove.

“Merawat lingkungan yang paling dibutuhkan adalah keikhlasan. Banyak orang inovatif, pintar tapi tidak ikhlas. Yang kedua, adalah keuletan, sikap tidak gampang menyerah,” kata Slaman.

Lebih lanjut, dia merasa bangga ketika mendapat kunjungan dari kalangan akademisi. Mulai dari siswa SD, SMP, SMA bahkan dari perguruan tinggi

“Ada yang dari SD, SMP dan mahasiswa. Kadang ikut membantu dalam penanaman,” pungkasnya. (RUK/MH)