banner auto

Santri Putri Ponpes Bata-Bata Ngaji Ekologi Bersama Ecoton

Pekan Ngaji
Rafika Aprilianti, Tim Riset dari Ecoton sedang menyampaikan materi tentang bahaya mikroplastik. (FOTO: Ecoton)

maduraindepth.com – Sejumlah Santri putri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan ngaji ekologi bersama Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), Ahad (8/1) Ecoton merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus bergerak di bidang pemulihan lingkungan sungai.

Kegiatan itu, merupakan dari salah satu dari sekian rangkaian Pekan Ngaji 8 untuk memberikan penyadartahuan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan tadabur alam. Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Gen Z Peduli Bumi; Fenomena Fast Fashion Hingga Gaya Hidup Minim Plastik’.

Tim Riset Ecoton, Rafika Aprilianti didapuk sebagai pembicara dalam acara tersebut. Dia mengatakan santri merupakan salah satu elemen penting dalam mendakwahkan isu lingkungan.

“Sebenarnya lingkungan telah diciptakan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya, namun ternyata makin tahun yang kita rasakan sudah mulai nampak kerusakan seperti QS Ar-rum (30:1). Dimana kerusakan yang ada di darat, air dan lingkungan dilakukan oleh manusia secara terang-terangan,” tuturnya.

Dalam keterangan tertulisnya, dijelaskan, para peserta sangat antusias dan baru menyadari bahwa selama ini plastik dan baju sintetis yang mereka kenakan akan terbuang ke lingkungan. Kemudian menyebabkan terbentuknya mikroplastik.

“Plastik jajan kita, bungkus makanan, hingga baju kita yang sudah rombeng tidak akan hilang begitu saja di alam. Namun akan berubah menjadi partikel kecil kurang lebih 5 milimeter yang disebut Mikroplastik,” papar Rafika, sembari menunjukkan foto temuan mikroplastik di sungai hasil penelitian Ecoton.

Dia bilang, kepedulian di lingkungan dengan merubah pola konsumtif akan memberikan setidaknya potensi pemulihan lingkungan. Terutama pengurangan produk sekali pakai.

“Kesadaran ini diharapkan juga dapat mengurangi produksi sampah yang dihasilkan di lingkungan pondok terutama santriwati,” harapnya.

Zahrotul Millah, salah satu santri putri mengaku baru menyadari bahwa plastik yang menjadi wadah ragam kemasan dapat membahayakan lingkungan.

“Sebagai salah satu santriwati saya baru tahu, ternyata selama ini yang saya lihat kalau sampah yang berceceran di lingkungan sudah kembali lagi ke kita,” ucapnya.

Dia berharap semoga kesadaran dari diri kita lebih tinggi lagi dan juga pondok bisa mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, seperti bungkus nasi. “Jadi dirubah peraturannya ke sistem prasmanan atau refill kata mbak Rafika tadi,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.

Misria, salah satu panitia penyelenggara Pekan Ngaji 8 mengatakan, pihaknya mengapresiasi kesediaan Ecoton untuk berbagi pengetahuan soal lingkungan. Dia berharap, ke depan, Pondok Pesantren Bata-Bata dapat lebih mawas diri tentang penggunaan plastik di lingkungan pondok pesantren.

Kegiatan itu, tambahnya, dapat menjadi pemantik agar santri lebih peduli akan lingkungan. “Kami, pihak ponpes siap turut andil dalam hal menjaga bumi ini. Kami ingin mengarah ke sana (pengurangan penggunaan plastik),” tuturnya.

Selam ini, sambung Misria, pihaknya sudah menyediakan fasilitas tempat sampah di tiap sudut, meski masih tercampur. “Mungkin kedepannya setelah kajian ini, kami juga bisa mengatur pengurangan plastik sampah di lingkup ponpes,” ucapnya. (*/MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto