Revitalisasi Keteladanan dalam Agama Cinta dan Syariat Kasih-Sayang

Refleksi Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tahun 1422 H

Muhammad Aunul Abied Shah
Muhammad Aunul Abied Shah.
Oleh: Muhammad Aunul Abied Shah*

maduraindepth.com – Beberapa sejarawan Muslim, seperti Ahmad Amin (pemikir modernis asal Mesir di awal abad XX) dalam tetralogi sejarah Islamnya yang terkenal, mempunyai asumsi bahwasanya salah satu faktor utama keberhasilan dakwah Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam rentang dua dekade saja adalah disebabkan oleh adanya tuntunan langsung dari langit (wahyu). Seolah tanpa adanya wahyu yang turun sesuai dengan asbabun nuzul-nya, tak bakal dakwah tersebut akan berhasil sedemikian rupa.

Kita bisa saja sepakat dengan asumsi di atas, dan bisa pula berbeda pendapat. Tetapi dalam faktanya, para ulama dan pendakwah Islam yang bergerak ke berbagai pelosok bumi tidak menjadikan wahyu yang tidak turun lagi sebagai alasan untuk berputus asa. Mereka terus bergerak ke timur, ke barat dan ke selatan. Sampai ada yang tiba ke negeri China dengan membawa Islam yang damai, sebagaimana juga para wali songo yang mengusung dakwah Islam ke Nusantara sebagai rahmat bagi alam semesta.


Bagi para pendakwah Islam yang kemudian terbukti sangat berhasil itu, Islam par excellence adalah pengejawantahan dari sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits: bahwasanya kita harus mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu mayoritas umat Islam pada setiap zaman yang mewujudkan kembali cara berintuisi, cara berpikir, cara berbicara, cara bertindak dan berperilaku yang sesuai dengan kebiasaan Kanjeng Nabi SAW sendiri dan para sahabatnya. Kata “sesuai” ini perlu diberi penekanan khusus, karena tidak meniscayakan kesamaan yang rigid/saklek seperti yang dipahami oleh orang picik, melainkan menyiratkan adanya kesejalanan dan tidak adanya pertentangan. Contohnya, berpakaian tidak harus berjubah seperti orang Arab, tetapi harus pantas dan memenuhi syarat yang menutup aurat.

Baca juga:  Kepanikan Masyarakat Terhadap Covid-19

Keterhubungan yang kohesif, melekat tidak bisa terpisahkan antara diri mereka dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah tersebut. Karena mereka memang mendapatkannya bukan dari sekedar membaca kitab, atau belajar secara teoritis menggunakan metode otodidak; melainkan mendapatkannya secara langsung melalui proses keteladanan sepanjang hayat. Bagaimana tidak? Sejak guru-guru pertama mereka, yaitu para sahabat, mereka sudah melaksanakan sabda Kanjeng Nabi SAW: “shalluu kamaa raaytumuuni ushally” (Shalatlah sebagaimana kalian melihat cara saya m