Pesan Gus Azaim untuk Pemuda Madura Saat Hadiri Haul Masyayikh PP Al Ulum Wal Althaf Somorduko

maduraindepth.com – Dalam rangka memperingati haul sesepuh dan masyayikh Somorduko, Pondok Pesantren (PP) Al Ulum Wal Althaf menggelar kegiatan shalawat bersama Jam’iyah Shalawat Bhenning Nusantara. Kegiatan dipusatkan di lapangan pesantren itu tampak meriah dan khidmat, Kamis malam (11/8).

Pimpinan Jam’iyah Shalawat Bhenning Nusantara, KH. R. Azaim Ibrahimy turut hadir mengisi tembang-tembang shalawat dan dzikir.

Pengasuh PP Al Ulum Wal Althaf, KH. Asyiq Lutfillah menyampaikan, acara tersebut digelar dalam rangka memperingati haul para sesepuh dan masyayikh Somorduko.

“Dengan adanya acara ini acara haul ini untuk memperingati haul sesepuh dan Masyayikh keluarga Pondok Pesantren Al Ulum yang ada di Rapa Daya,” tuturnya.

PP Al Ulum Wal Althaf
Pengasuh PP Al Ulum Wal Althaf, KH. Asyiq Lutfillah. (FOTO: Arief Tirtana/MI)

Ia mengungkapkan maksud dan tujuan digelarnya acara tersebut. Yakni untuk membersihkan hati dari segala kotoran yang ditimbulkan oleh maksiat.

“Dengan banyaknya maksiat di zaman saat ini Somorduko Bersholawat berharap kita dapat areng sareng nyucceeh ateh (bersama-sama mensucikan hati; Madura-red),” terangnya.

Pihaknya menghadirkan KH. R. Azaim Ibrahimy beserta Majelis Taklim dan Sholawat Bhenning Nusantara dari Situbondo yang juga masih merupakan keluarga dari PP Al Ulum Wal Althaf.

“Semoga dengan senandung dzikir dan sholawat ini kita dapat membersihkan hati dari kotoran-kotoran dan maksiat yang datang pada diri kita,” tuturnya.

Ada Kecemasan Terhadap Masyarakat Madura
[td_block_video_youtube playlist_title=”” playlist_yt=”flPojdrknXA,hTlsBKuYqQY” playlist_auto_play=”0″]

Di tempat yang sama, KH. R. Azaim Ibrahimy menuturkan, kedatangannya ke Madura serasa kembali ke tanah kelahiran. Ia mengakui bahwa dirinya memiliki ikatan emosional yang cukup dalam dengan Madura.

Namun melihat perkembangan teknologi dan informasi, dirinya memiliki dua pandangan sekaligus terhadap Madura. Di satu sisi Madura memiliki harapan, di sisi lain ada yang dicemaskan.

Harapannya, masyarakat Madura mampu mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya yang ada. Sementara kecemasannya adalah dengan kemajuan teknologi yang sudah masuk melalui pintu Suramadu yang semakin hari semakin terus meluas, bisa membuat Madura mengalami dekadensi moral.

“Kearifan lokal di Madura sudah seperti pohon dengan nilai-nilai akar tradisional. Kearifan lokal itu merupakan kearifan moralitas yang sudah terwariskan dari para pendahulu kita yang sudah ditanam Madura. Hal ini sangat baik bagi keimanan dan keislaman masyarakat,” terang kyai yang karib disapa Gus Azaim.

Masuknya budaya asing, seperti tren dan gaya moderen menjadi ancaman bagi Madura. Bahkan nilai-nilai moral yang dijunjung masyarakat Madura juga bisa luntur.

Perkuat Tiga Pilar

Cucu KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo itu mengungkap, ada tiga pilar yang harus dipertahankan dan dikuatkan untuk merekonstruksi. Yakni pilar kyai, pemerintah dan orang tua.

“Kalau dulu anak-anak kita dipantau langsung oleh orang tuanya di hadapan mata mereka, tetapi ketika hari ini bermainnya melalui media sosial dengan jejaring dunia sosial yang begitu luas kita tidak tahu kenal dengan siapa dengan latar belakang seperti apa,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah memiliki andil yang cukup besar untuk mengatasi dekadensi moral ini. “Pemerintah harus mampu mengatasi selektifitas budaya dan tradisi ini,” terangnya.

Sebelum mengakhiri perbincangannya, ulama kharismatik Jawa Timur itu berpesan kepada generasi muda Madura. “Setinggi apapun posisi Anda, seperti ranting pepohonan jangan lupa pada akar nilai budayanya dan tradisi kearifan lokal,” pesannya. (RIF/MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info