Maju Jadi Cakades, Taufiqurrahman Ingin Mengabdikan Diri Kepada Masyarakat

0
652
Moh. Taufiqurrahman
Cakades Bancelok Moh. Taufiqurrahman. (Foto: Istimewa)

maduraindepth.com – Moh. Taufiqurrahman, salah satu pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur maju dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak, 21 November 2019. Lantas apa yang memotivasi berniat maju sebagai calon kepala desa (Cakades)?

Pria kelahiran 15 Oktober 1974 saat ini resmi mencalonkan diri sebagai Cakades Bancelok, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang. Ternyata, dorongan wargalah yang membuat pria yang akrab disapa Kai Taufiq itu mencalonkan diri sebagai Cakades Bancelok.

“Motivasi terbesar saya adalah (melihat) keadaan masyarakat Bancelok dari segi sosial, ekonomi, agama dan budaya semakin hari semakin tidak tertata dengan baik,” tuturnya pada maduraindepth.com, Rabu (13/11) kemarin.

Menurutnya, banyak bantuan yang luar biasa dari pemerintah untuk Desa Bancelok. Mestinya, dengan bantuan tersebut persoalan yang dialami Desa Bancelok bisa teratasi. Tapi sampai saat ini Desa Bancelok tidak ada perkembangan apa-apa.

“Kalau desa yang lain sudah berlari, Bancelok berlari juga, tapi lari di tempat,” kata Taufiq.

Dijelaskan, ada tiga persoalan yang saat ini dihadapi Desa Bancelok. Pertama sektor pertanian, kedua pembangunan infrastruktur desa, ketiga air dan stunting atau gizi buruk.

Menurut Taufiq, dalam sepuluh tahun terakhir Desa Bancelok mengalami gagal panen kedua. Mengingat 90 persen warga Bancelok adalah petani.

Gagal panen tersebut karena selama ini petani di Desa Bancelok hanya mengandalkan tadah hujan. Sementara irigasi tidak teraliri air dari Waduk Klampis. Padahal, lanjut Taufiq, jika dilihat dari letak geografis Desa Bancelok sangat dekat dengan waduk Klampis.

“Kalau dilihat dari segi geografis seharusnya terjangkau karena lebih dekat dengan Bancelok,” ujar pria 45 tahun itu.

Kemudian pembangunan infrastruktur jalan. Dia mencontohkan kondisi jalan yang ada di Dusun Bulabuh Bancelok. Menurutnya, di dusun tersebut belum tersentuh program pembangunan.

Pembangunan infrastruktur jalan ini, kata Taufiq, sangat penting. “Jika jalannya tidak ada perbaikan, bagaimana masyarakat mau bertani?,” ucap alumni Pasca Sarjana UNISMA tersebut.

“Jika melihat Dana Desa yang digelontorkan pemerintah sangat luar biasa. Tapi hingga saat ini belum apa-apa,” tambahnya.

Selanjutnya masalah air. Saat ini, papar Taufiq, Desa Bancelok memiliki air yang melimpah. Bahkan air tersebut dijual sampai ke luar kabupaten, seperti Kabupaten Bangkalan.

Ironisnya, pada saat musim kemarau, Desa Bancelok dilanda kekeringan. Ditambah lagi Desa Bancelok mendapat predikat desa stunting.

“Lah ini yang saya gak habis pikir, kita punya sumber air yang melimpah, tapi kita masih dapat predikat stunting, gizi buruk,” katanya.

Menurutnya, stunting ini berkaitan dengan generasi Bancelok. “Kalau stunting bagaimana generasi muda Bancelok bisa bersaing dengan daerah lain,” ungkapnya.

Atas dasar itulah, Moh. Taufiqurrahman kemudian banting setir ingin mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negara. “Karena saya dari PNS dan masyarakat banyak yang menginginkan saya duduk di pimpinan desa,” pungkasnya. (MH/AW)