maduraindepth.com – Empat ratus nelayan dan perempuan pesisir Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mengubah panggung Festival Pesisir menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kisah Bangsacara-Ragapatmi. Pertunjukan tersebut menjadi puncak Festival Pesisir #5 SKK Migas-HCML yang berlangsung di Pulau Mandangin, Sabtu (15/8/2026).
Dalam drama musikal kolosal bertajuk “Mandangin Bergema” itu, warga tidak sekadar menjadi penonton. Mereka menjadi penari, pemeran drama, sekaligus aktor yang membawakan salah satu kisah yang berkembang dalam ingatan masyarakat Pulau Mandangin.
Panggung berukuran sekitar 20 meter x 4 meter itu dipenuhi ratusan warga. Mereka membawa cerita tentang sejarah dan legenda pulau yang selama ini hidup melalui tradisi tutur masyarakat pesisir.
Yang menarik, para pemain bukan berasal dari kelompok teater profesional. Mereka adalah masyarakat Mandangin yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan maupun menjalankan aktivitas rumah tangga dan ekonomi pesisir.
Persiapan pertunjukan dilakukan selama sekitar tiga bulan. Warga berlatih gerakan, mendalami karakter, hingga mematangkan dialog di sela-sela kesibukan.
Para nelayan bahkan menjalani latihan setelah pulang melaut. Kesibukan mencari nafkah tidak membuat mereka meninggalkan proses persiapan pertunjukan.
Bupati Sampang: Bukan Perkara Mudah
Bupati Sampang Slamet Junaidi mengaku terkesan setelah menyaksikan pertunjukan tersebut secara langsung. Ia mengaku tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan yang akan ditampilkan warga Mandangin.
“Saya tidak tahu seperti apa konsepnya. Tahu-tahu barusan melihat, luar biasa,” katanya, Sabtu malam.
Menurut dia, mengoordinasikan ratusan orang dalam satu pertunjukan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Namun, warga Mandangin mampu mengendalikan pertunjukan sekaligus membawa sejarah daerah mereka ke atas panggung.
“Bisa mengendalikan 400 orang ini susahnya luar biasa. Tapi ini bisa membawa sejarah Pulau Mandangin,” ujarnya, kagum.
Pertunjukan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengemas sejarah lokal menjadi pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Warga Menjadi Pelaku Utama

Manager Regional Office and Relation HCML Hamim Tohari mengatakan, Festival Pesisir #5 merupakan bagian dari program tahunan SKK Migas-HCML bersama pemerintah kabupaten sebagai tuan rumah. Tahun ini, Pulau Mandangin dipilih sebagai lokasi festival dengan tema “Mandangin Bergema”.
Menurut Hamim, pemilihan tema tersebut berkaitan dengan semangat agar berbagai kegiatan pemberdayaan yang telah dilakukan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Festival Pesisir yang kelima ini mengambil tema Mandangin Bergema, karena kita ingin apa yang sudah kita lakukan itu bisa terus berlanjutan,” kata Hamim.
Hal yang membedakan festival tersebut adalah posisi masyarakat. Warga tidak ditempatkan sekadar sebagai penonton atau penerima manfaat kegiatan, tetapi menjadi pelaku utama.
Masyarakat diajak menggali berbagai hikayat yang berkembang di Pulau Mandangin. Cerita-cerita tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk seni pertunjukan.
“Mereka menggali cerita-cerita atau hikayat-hikayat yang tersembunyi di Pulau Mandangin ini dan dituangkan dalam sebuah aksi seni,” ujar Hamim.
Melalui pendekatan tersebut, festival tidak hanya menjadi agenda pertunjukan budaya. Ia juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali sejarah dan identitas daerahnya.
Festival Pesisir dan Pemberdayaan Masyarakat
Festival Pesisir merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas-HCML. Program tersebut mencakup sejumlah bidang, mulai dari seni dan budaya, pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga penguatan kelembagaan.
Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kapasitas sekaligus mendorong pendapatan dan kemandirian masyarakat lokal.
Festival Pesisir pertama digelar di Pulau Mandangin pada awal 2023 dengan tema “Bersih Pantaiku, Indah Lautku”.
Festival kedua berlangsung di Pulau Gili Iyang pada akhir 2023 dengan mengangkat tradisi Andrenat. Kemudian pada 2024, Festival Pesisir #3 digelar di Pantai Matahari, Desa Lobuk, dengan tema “Taraju”.
Festival Pesisir #4 selanjutnya berlangsung di Pulau Giligenting dengan mengangkat tema “Lengghi”.
Pada penyelenggaraan kelima di Mandangin, kegiatan tidak berhenti pada pertunjukan seni dan budaya.
Sebanyak 25 siswa berprestasi dan 25 siswa dari keluarga kurang mampu mendapat bantuan melalui program Langkah Baik HCML. Program tersebut menyasar siswa dari sembilan SD, tiga MI, tiga MTs, dan satu SMP di Pulau Mandangin.
Program HCML untuk Masa Depan juga diberikan kepada 50 balita. Selain itu, sebanyak 100 anak mengikuti khitanan massal.
Warga juga mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan, termasuk pembuatan KTP dan kartu keluarga.
Di sisi ekonomi, festival menghadirkan bazar yang melibatkan 15 UMKM binaan HCML bersama pedagang kecil setempat.
Merawat Ingatan Pulau Mandangin
Pulau Mandangin memiliki luas sekitar 165 hektare dan terbagi menjadi tiga dusun, yakni Dusun Barat, Kramat, dan Candin.
Di tengah kehidupan masyarakat pesisir yang sebagian besar bergantung pada laut, cerita sejarah dan hikayat lokal menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Pertunjukan Bangsacara-Ragapatmi dalam Festival Pesisir #5 memperlihatkan bagaimana ingatan tersebut dapat dirawat melalui seni.
Ratusan nelayan dan perempuan pesisir yang sehari-hari bekerja dan menjalani kehidupan di pulau itu tampil sebagai pencerita bagi daerahnya sendiri.
Di panggung “Mandangin Bergema”, sejarah tidak hanya diceritakan. Ia dimainkan, ditarikan, dan dihidupkan kembali oleh masyarakat yang mewarisinya. (*/MH)












