Kibarkan 98 Juta Bendera di Sampang Selama Tiga Hari, Kiai Itqon: Pengabdian Kita untuk Negeri

248
98 juta Bendera NU KH. Itqon Bushiri
Ketua PC NU Sampang KH. Mohammad Itqon Bushiri. (FOTO: Shutterstock MI)

maduraindepth.com – Puncak hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) jatuh pada tanggal 16 Rajab 1442 Hijriyah atau bertepatan pada 28 Februari 2021. Ragam kegiatan dilaksanakan mulai dari tanggal tersebut. Termasuk pengibaran 98 juta bendera merah putih dan bendera NU yang didominasi warna hijau.

Di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, pengibaran 98 juta bendera tersebut akan berlangsung selama tiga hari. Yakni dilaksanakan mulai Jumat (26/2) besok hingga Ahad (28/2). Menariknya, jutaan bendera tersebut tidak hanya dikibarkan di rumah, kantor, sekolah dan pesantren. Tapi juga tidak kalah penting di media sosial.


Ketua Tanfidziyah PCNU Sampang KH. Mohammad Itqon Bushiri menyampaikan, makna pengibaran 98 juta bendera tersebut merupakan bentuk pengabdian jam’iyah NU kepada bangsa ini selama 98 tahun. Yakni terhitung sejak 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan kalender Miladiyah 1926 M.

“Pengabdian kita untuk negeri, bahwa kita Nahdlatul Ulama mengawal Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akhirnya tercetuslah 28 Oktober 1928 itu,” ungkapnya, Kamis (25/2).

Menurutnya, pengibaran bendera tersebut merupakan bentuk kesetiaan mencintai tanah air. Jika mengingat perjuangan para pendahulu, negara Indonesia telah amis dengan darah para pejuang yang berdiri tegak memperjuangkan dan mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

Karena itu, kiai Itqon mengajak kepada seluruh elemen bangsa, khususnya di Kabupaten Sampang untuk bersama-sama membangun NKRI dengan keberagaman.

Baca juga:  Buka Puasa Bersama, Ketua PCNU Sampang Ajak Semua Pihak Jaga Kondusivitas

Keberagaman dimaksud adalah tentang kebersamaan dan menyatakan bahwa kita Bangsa Indonesia.

“Kita bersujud di tanah Indonesia, kita berwudhu dengan air Indonesia, inilah bangsa Indonesia. Maka kita mengajak semua warga Nahdlatul Ulama memasang bendera merah putih, kemudian di bawahnya bendera NU sebagai bentuk kesetiaan,” tuturnya. (*/MH)