Ketua Lakpesdam NU Faisal Ramdhoni Urai Perjalanan Singkat Penanganan Syiah di Sampang

Ketua Lakpesdam NU Sampang
Ketua Lakpesdam NU Sampang Faisal Ramdhoni. (Foto: Arief Tirtana/MI)

maduraindepth.com – Berawal dari perbedaan keyakinan dalam menganut ajaran pada tahun 2012 lalu. Beberapa warga di dua desa yakni Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang, Sampang berbuntut panjang hingga dipengungsian Jemundo Sidoarjo. Sampai saat ini, Kamis (4/1/2021).

Menginjak tahun 2021 yang merupakan tahun kedelapan pasca tragedi, sebagian pengungsi penganut syiah masih dalam tahap transisi dari ajarannya berpindah ke Ahlussunnah Wal Jamaah. Sehingga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang beserta seluruh stakeholder yang di antaranya tokoh Agama berupaya untuk melakukan pembinaan.


Hal itu diurai Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampang Faisal Ramdhoni. Pria yang juga menjabat sebagai Humas Kementerian Agama (Kemenag) Sampang itu mengatakan, Pemkab Sampang bersama para tokoh ulama saat ini tengah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) untuk melakukan pembinaan.

“Capaian jalan baru ditandai dengan ikrarnya Tajul Muluk beserta sebagian besar pengikutnya tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan proses-proses yang sebelumnya dilakukan. Adanya perubahan strategi dan metode pendekatan yang dimulai sejak 2016 menjadi langkah penting untuk dijadikan pijakan,” kata Faisal kepada maduraindepth.com.

Selama tahun 2012 hingga 2013, lanjut Faisal, pendekatan yang dilakukan masih menggunakan Right Based Approach (pendekatan berbasis hak). Ternyata hal ini juga kurang efektif dijalankan.

Baca juga:  Lapas Korwil Madura Sita Barang Terlarang Milik Tahanan

“Malah, semakin merenggangkan relasi sosial dan menguatkan penolakan karena warga mayoritas dinilai sebagai pelaku kejahatan,” ucapnya.

Meski begitu, kata dia, di medio (rentan waktu) 2014 – 2015, pendekatan yang digunakan adalah Interesting Approach (Berbasis kepentingan). Upaya-upaya dialog dengan mempertemukan kedua belah pihak yang bersitegang atau berkonflik hanya berkutat di soal penerimaan dan pemulangan.

“Hasilnya, dialog dan pertemuan yang dilakukan juga kurang membuahkan hasil secara signifikan. Justru yang terjadi saling tuding dan saling klaim kebenaran. Belajar dari itu semua, maka sejak 2016 paradigma, strategi dan metode pendekatannya dirubah,” papar Faisal.

“Kedua belah pihak diletakkan sebagai sesama korban. Tidak ada lagi dikotomi pelaku dan korban. Sehingga keduanya harus diperlakukan dan dilayani secara sama. Strategi yang digunakan kami namai sebagai Pendekatan Inklusi. Dimana dalam pendekatan ini menitikberatkan pada tiga hal yakni penerimaan, pemberdayaan dan kebijakan.” tandasnya.

Penanganan Syiah Sempat Gunakan Strategi Power Based Approach