Keris Sumenep Jadi Souvenir KTT G20, Jala Sottra; Saatnya Dunia Mengenal Sumenep Secara Utuh

keris sumenep
Proses penempaan keris di Desa Aeng Tong-Tong, Sumenep. (Foto: Arif Cool Break/MID)

maduraindepth.com – Keris Sumenep menjadi souvenir pada moment Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Pertemuan para kepala Negara itu menjadi salah satu peristiwa langka di dunia. Terlebih pagelarannya dihelat di Bali, Indonesia.

Di era endemi seperti saat ini, pemerintahan pun seolah enggan melepas peluang untuk membangkitkan ekonomi lokal Indonesia, khususnya dibidang ekonomi kreatif. Sehingga beberapa item kearifan lokal turut dihadirkan sebagai souvenir para tamu KTT G20 Bali, di antaranya keris Sumenep.

Ketua Jala Sottra Sumenep, RBMS Hadi menyampaikan terima kasih kepada pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Khususnya kepada Sandiaga Salahuddin Uno yang memberi kesempatan keris Sumenep sebagai salah satu souvenir bagi para tamu KTT G20.

“Karena mungkin ini momen langka yang menjadikan Sumenep lebih dikenal oleh dunia luar, sebagaimana pitutur tauladan Sultan Abdurrahman, yaitu Ajala Sottra,” ungkapnya.

Lebih lanjut, RBMS Hadi menuturkan tentang konsep politik Jala Sottra yang dicetuskan Sultan Abdurrahman. Dimana secara garis besar, politik Jala Sottra ala Sultan Abdurrahman yang merupakan Raja Sumenep era 1800 Masehi, membuat kerajaan Sumenep masa lalu sudah tersohor hingga ke dunia luar, seperti Eropa dan sekitarnya.

“Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa artefak peninggalan Keraton Sumenep, seperti kereta kencana yang merupakan hadiah dari raja Inggris dan beberapa lainnya, yang kesemuanya merupakan hadiah atas jasa Sultan Abdurrahman yang bagi mereka telah berjasa bagi bangsanya saat itu,” tutur RBMS Hadi.

Baca juga:  Insiden Bondet di Sumenep Makan Korban, Ini Kata Camat Pragaan

Tidak hanya itu, menurut dia, ada peninggalan yang sangat nampak dan hingga saat ini merupakan maskot Negeri Para Empu (Sebutan Kota Sumenep), yaitu akultrasi etnik budaya yang nampak sangat jelas pada ornamen-ornamen Masjid Jamik atau Masjid Agung Sumenep. Masjid bersejarah itu menyuguhkan gaya arsitektur Timur Tengah, Eropa dan Cina. Masjid tersebut dibangun di era panembahan Sumolo (Ayah Sultan Abdurrahman) dan diselesaikan oleh Sultan Abdurrahman pada 1800 Masehi.

“Berbicara Sumenep Kota Keris, hal itu merupakan sebuah ikatan yang sangat identik, dimana kita ketahui sendiri di seluruh kerajaan Nusantara pada waktu itu, hampir dipastikan kesemuanya memiliki pusaka keris, sesuai dengan karakteristik dan kulturnya masing-masing. Sama halnya dengan Sumenep, dimana di setiap bilahan kerisnya, memiliki ciri khas dengan setiap guratan pamor dan postur pusaka kerisnya yang memiliki makna tentang tauladan kehidupan,” cerita RBMS Hadi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *