Kembangkan Ekowisata Mangrove, Unair Beri Pelatihan Warga Desa Labuhan Sreseh

maduraindepth.com – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Labuhan, Sreseh, Sampang. Pelatihan dan pendampingan difokuskan pada pengembangan ekowisata mangrove. Warga setempat diberikan pengetahuan soal produk alternatif yang berkaitan dengan pariwisata.

Dosen Pariwisata Unair Reizza Al Ariyah menjelaskan, ada dua pelatihan yang berikan kepada warga. Yaitu, pelatihan sablon teknik Direct Transfer Film (DTF) dan Digital copywriting. “Segmen yang paling menarik adalah pelatihan pembuatan kaos sebagai salah satu bentuk cinderamata yang mudah untuk diproduksi,” ucap Reizza, Ahad (4/9).

Dengan konsep plug and play dan bahan yang mudah diproduksi, masyarakat diajari cara membuat design sesuai dengan kemampuan dan kreatifitasnya. Desain yang dibuat berkaitan dengan potensi pariwisata di daerahnya masing-masing.

“Jenis sablon yang digunakan adalah rubber digital atau lebih dikenal sebagai DTF (direct transfer film) dengan metode yang sangat simpel. Diharapkan masyarakat bisa dengan mudah mengaplikasikan pada media yang sudah ditentukan, yaitu kaos,” terang Reizza.

Selain proses yang mudah, jelas Reizza, kualitas dan perawatan jenis sablon tersebut tergolong mudah. Masyarakat hanya perlu mencetak desain yang ingin dibuat dan kemudian bisa langsung di tempel pada bagian yang diinginkan.

“Dengan menggunakan setrika atau alat yang memiliki tekanan dengan suhu tertentu desain dan produk kaos ini sudah bisa dilakukan tentunya dengan kualitas yang tidak kalah dengan cetak garment,” jelasnya.

Tak hanya sampai disitu, masyarakat juga diberi pelatihan pengolahan produk makanan dengan memanfaatkan komoditas setempat. Pelatihan ini sangat diminati oleh peserta pelatihan. “Sorgum, wijen dan berbagai tangkapan hasil laut menjadi komoditas utama sekaligus ciri dari produk yang dihasilkan dari Desa Labuhan,” ucapnya.

Reizza menambahkan, sebelum ada pelatihan dari Unair, masyarakat minim pengetahuan tentang olahan varian dari produk yang menjadi komoditas Desa Labuhan. Sehingga, banyak bahan terbuang dengan percuma dan harga jual rendah.

“Tetapi setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan masyarakat mulai memahami tentang peluang usaha dan alternatif peningkatan perekonomian yang masih memiliki cabaran dari sektor pariwisata seperti pengolahan sorgum menjadi tepung, proses produksi dengan penerapan hidup sehat, pengolahan makanan dengan cara higinis dan berbagai alternatif lainnya,” paparnya.

Digitalisasi Sektor Pariwisata

Pada sesi terakhir, masyarakat dibekali materi digital copywriting berkaitan dengan kebudayaan, keunggulan dan berbagai identitas potensi desa. Harapannya, desa mitra dan seluruh masyarakatnya bisa bersaing dalam kancah nasional maupun global.

Menurut Reizza, digitalisasi sebagai marwah percepatan perubahan seharusnya juga bisa dilakukan dalam sektor pariwisata, khususnya tentang teknik penulisan dengan kaidah yang sudah ditentukan. Hal ini, kata dia, untuk mendapatkan respon dan perhatian dari semua kalangan dalam memperkenalkan suatu produk atau informasi penting lainnya.

“Minimnya pengetahuan masyarakat tentang system algoritma social media menjadikan usaha dan informasi yang ingin disampaikan menjadi kurang optimal, mengingat desa mitra yang memiliki UMKM dan seluruh kekayaan budaya sebagai identitas pariwisata yang ingin di kembangkan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, lanjut Reizza, masyarakat diberikan pelatihan digital copywriting untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumberdaya manusia agar mampu bersaing dan memiliki kualitas unggul.

“Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat dan inspirasi lainnya dalam mewujudkan perubahan yang berkelanjutan khususnya di bidang pariwisata,” pungkasnya. (AW/MH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info