banner auto
banner auto
Opini  

Kekuatan Pendidikan Knowledge Oriented

Oleh: Faizin, S. Pd. I

maduraindepth.com – Di Jepang, bom atom meluluhlantakkan dua kota, Nagasaki dan Hiroshima. Seluruh aktivitas lumpuh total. Pasukan Jepang semua ditarik dari negeri-negeri jajahannya, tak terkecuali Indonesia.

Jepang berada pada masa-masa ebituari yang amat mendalam. Namun, yang hebat dari itu semua adalah langkah konkret sang pemimpin. Ia tidak mendata seberapa banyak tentara yang tersisa, melainkan seberapa banyak guru yang masih hidup di tengah reruntuhan dua kota tragis itu.

Kemudian, tengoklah tahun-tahun berikutnya, Jepang bangkit dan maju karena pendidikannya itu.

Di belahan dunia lain, tepatnya di Palestina; negeri yang tak pernah beres dari penindasan. Di sana ada satu sosok Syaikh sepuh, kurus, lumpuh, dan tak pernah jauh dari kursi roda. Ialah Syaikh Ahmad Yasin namanya. Sosok murabbi (pendidik jiwa) gerakan perlawanan Islam (Hamas) di sana. Beliau sosok yang paling ditakuti Israel. Bukan karena dia seorang sniper handal, bukan perakit bom canggih, namun karena kekuatan pendidikan, pendidikan spiritualnya.

Di sini, di negeri ini, ada Kiyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), ada Mbah Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), dan masih banyak lainnya yang rela mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kecerdasan umat.

Dalam al-Hadiy Nabawi fi Tarbiyati al-Awlad, Syekh al-Qahthani menjelaskan, pendidikan pondasinya perlu ditanam sejak anak-anak dalam buaian (al-hadhanah). Sebagimana hadits Nabi, “Uthlubu al-ilma min al-mahdi ila al-lahdi.” Pendidikan, mesti berjalan mulai dari lahir hingga menuju liang lahat. Berjalan sepanjang usia (long life).

Pendidikan bukan urusan angka-angka. Ia tak searus dengan data-data. Bukan target waktu yang terpampang dalam kurva. Mengejar tayang demi untuk capaian nilai-nilai yang kosong dari subtansial. Pendidikan soal perubahan. Ia ada untuk mengubah (li taghyir). Mengubah karakter manusia. Mengubah watak dan tabiat, akhlak dan perilaku, individual ke arah komunal dan sosial.

Pendidikan adalah keseimbangan. Keseimbangan manusia guna belajar pada nurani demi mengelola dan memimpin bumi (tut wuri handayani). Ia berjalan beriringan hingga berlangsung saling support dan mengisi (ing madya mangun karsa). Semua demi untuk suksesi menuju arah perbaikan jama’i (ing ngarsa sung tulada). Tiga keseimbangan tersebut mengerucut pada satu point, yaitu ilmu (knowledge).
Pendidikan, kata salah seorang ulama’ adalah kewajiban asasi. Kebutuhan primer. Tanpanya manusia akan mati. Jumud dan tak layak lagi disebut manusia. Sebab, “al-Nasu alimun wa mutaallimun fa al-baqi hamajun.” (manusia hanya ada dua, yaitu mengajar dan belajar, sementara sisanya hanya debu berterbangan yang tak berguna), begitu kata salah seorang alim.

Al-Quran memberikan klasifikasi pembeda atas dua jenis manusia, yaitu berilmu dan tidak berilmu. “Hal yastawi al-ladzina ya’lamuna wa al-ladzina la ya’lamuna.” (tidaklah sama mereka yang berilmu dan tidak berilmu). Perbedaan keduanya terletak pada isi kepala dan isi hati. Dan, isi yang dimaksud adalah ilmu. Mereka yang ditinggikan derajatnya olehNya adalah mereka yang beriman lagi berilmu.

Tak cukup hanya beriman, tapi dilengkapi dengan ilmu sebagaimana dalam ayat, “Yarfai allahu al-ladzina amanu minkum wa al-ladzina utu al-ilma darajat.” (Allah meninggikan pangkat mereka yang beriman juga yang berilmu). Semua, pendidikan menjadi kata kuncinya.

Tapi kini, waktu bergulir begitu dekil. Pendidikan menjadi semacam magnet yang hanya untuk menarik materi. Matery oriented arah tujuannya. Salah? Tidak sepenuhnya. Toh, dunia, akhirat, dan kedua-duanya butuh ilmu sebagaimana sabda Nabi Saw, “Man arada al-dunya fa’alaihi bi al-ilmi waman arada al-akhirata fa’alaihi bi al-ilmi waman aradahuma fa’alaihi bi al-ilmi” (siapa saja yang menghendaki dunia, maka wajib dengan ilmu. Siapa saja yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya dengan ilmu. Dan siapa saja menginginkan keduanya, maka baginya wajib dengan ilmu). Semuanya jelas berorientasi pada ilmu pengetahuan (knowledge oriented).

Namun, di abad ini, banyak orang tua memasukkan anak-anaknya ke sekolah bertaraf internasional demi maksud agar anak-anaknya cerah masa depannya, tidak bingung mencari kerja. Berdayung sambut dengan dunia kerja, mereka melakukan irama yang sama. Tak jarang, pelaku bisnis hanya memprioritaskan lulusan-lulusan yang secara ligitimasi memiliki ijazah semata. Sesambut dengan hal demikian itu, para pencari kerja lulusan sekolah tersebut mereka nihil ilmu dan hanya bermodal lembaran ijazah di kantongnya. Betul rasanya kata guru saya, Almarhum KH. Ach. Moh. Nawawi (Pramian), “Padana melle rojhak, ghun melle bhungkos banne essena.” (seperti membeli rujak, membeli bungkusnya bukan isinya).

Satu hal yang perlu diingat, sebagaimana sabda Nabi Saw yang disalin oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah, “Siapapun yang mencari ilmu dengan tujuan dunia (matery oriented) semata, ia menambah jarak yang begitu jauh dari hidayah (petunjuk) Allah Swt.” Na’udzubillah. [*]

* Sekretaris PAC GP Ansor Pulau Mandangin.

banner auto banner auto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info