Hari Jadi Sampang Jadi Pertanyaan, MTD Trunojoyo Beberkan Ini

Hari Jadi Sampang
Peninggalan sejarah, makam Cakraningrat I di Kampung Madeggen, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota Sampang, Kabupaten Sampang, Sabtu (26/12). (FOTO: RIF/MI)

maduraindepth.com – Hari jadi (Harjad) Sampang yang jatuh pada 23 Desember menjadi tanda tanya besar oleh sebagian pihak di Kota Bahari. Ini dikatakan oleh Wakil Ketua I Madura Tempoe Doeloe (MTD) Trunojoyo Sampang, Raden Bagus Sulton.

Pria yang akrab dengan sapaan Bagus itu pun menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dijelaskan, tanggal 23 Desember 1624 M merupakan penobatan Raden Praseno sebagai Raja Madura Barat. Yakni Bangkalan, Sampang dan Pamekasan.


Kala itu, Raden Praseno memiliki gelar sebagai Pangeran Cakraningrat I. Penobatannya sebagai Raja Madura Barat tersebut kemudian dijadikan acuan sebagai tanggal Hari Jadi Sampang.

“Karena itu di setiap tanggal 23 Desember menjadi hari jadi Sampang. Yang artinya Madeggan sudah habis riwayatnya setelah tahun 1647,” terangnya, Sabtu (26/12).

Pengangkatan Raden Praseno tersebut adalah awal kolonialisme Mataram atas Madura. Karena sebelumnya, empat kerajaan di Madura berdaulat pasca runtuhnya Majapahit. Hal ini terbukti, pengangkatan Raden Pratanu sebagai Raja Bangkalan pada 26 Oktober 1531 M menjadi landasan penetapan Hari Jadi Bangkalan.

“Kalau di Kabupaten Pamekasan ditandai dengan Pangeran Ronggosukowati sebagai penguasa Pamekasan pada tanggal 3 November tahun 1520,” tuturnya.

“Sehingga Sampang seolah menjadi daerah termuda, padahal sebelum Raden Praseno sudah ada pemerintahan yang didirikan oleh putra Brawijaya V bernama Raden Aryo (RA) Lembu Peteng pada tahun 1478 dengan keraton Madeggan. Karena R.A Lembu Peteng berguru ke Ampel Denta,” sambungnya.

Baca juga:  Pemkab Pamekasan Mulai Terapkan Sanksi Sosial dan Denda Rp 500 Ribu Bagi Pelanggar Prokes

Bagus mengurai, berdasarkan data-data yang dihimpun oleh pihaknya MTD Trunojoyo, pemerintahan dilanjutkan oleh :

1. Raden Aryo Mengir diteruskan putranya
2. Raden Aryo Pratikel
3. Raden Aryo Pojok
4. Adipati Pramono (kekuasaan hingga Pamekasan Karena diambil menantu penguasa Pamekasan)
5. Pangeran Bonorogo (memindahkan keraton Madeggan ke Pamekasan)
6. Pangeran Siding Ghili
7. Adipati Pamedegan (berkeraton di Madeggan)
8. Adipati Mertosari (yang meninggal pada tahun 1624 akibat agresi Mataram ke Sampang)
9. Raden Praseno Cakraningrat 1 berkeraton di Kampung Madeggan, Kelurahan Polagan Sampang.

“Jadi agak beralasan jika beberapa pihak yang mempertanyakan kenapa pelantikan penguasa Sampang ke-9 yang dijadikan dasar hari jadi Sampang,” tandasnya.

Terpisah, Ubaidillah, seorang politikus asal partai Golongan Karya (GOLKAR) menanggapi, pihaknya mengklaim telah melakukan penelitian Pustaka. Akan tetapi menurutnya masih perlu ditelaah lebih komprehensif yang melibatkan para Budayawan dan ahli sejarah dan pakar-pakar lainnya.

“Akan tetapi setidaknya saya telah mengetahui silsilah raja-raja di Sampang dan Madura Barat,” kata pemuda asal Kecamatan Sreseh yang juga sebagai Anggota Komisi I DPRD Sampang.

“Hal ini saya anggap sebagai tambahan ilmu, dan saya pribadi lebih sepakat jika Adipati Pemadegan yang dijadikan acuan hari jadi Sampang dengan alasan yang juga ilmiah,” tambahnya.

“Namun demikian, saya tidak menganggap bahwa hari jadi saat ini salah. Karena mungkin juga memiliki dasar ilmiah dari hasil seminar pada tahuan 1994, tinggal dibedah mana argumen yang lebih kuat dan masuk akal, itu yang perlu dikupas secara lebih mendalam lagi,” sambungnya. (RIF/MH)