Harakiri, Dekonstruksi atas Asumsi Keabadian

Ziarah Sunyi
Oleh : Mas@be Zain*

maduraindepth.com – Pernahkah terlintas di dalam memori bahwa yang lahir dari ketiadaan, lalu menjadi ada, dan berpulang pada ketiadaan? Pernahkah terbersit bahwa yang dimiliki sesungguhnya bukan yang dimiliki? Pernahkah tergambar bahwa tidak ada yang abadi kecuali yang sifatnya Abadi? Pernahkah terkonstruk bahwa ketika disayat itu sakit, perih, dan pedih?

Jika pernah membersitkan rasa di dalam memori pada kilas-kisah sebagaimana disebutkan, beruntunglah; karena diantara kita belum benar-benar mati rasa. Rasa itu ada, setidak-tidaknya merasakan hal itu sebagai sesuatu yang ada. Walaupun, seringkali, rasa seketika tiada karena gaya. Akibatnya, rasa itu sirna, bukan karena mati. Tetapi, diam-diam, pemilik rasa, membunuhnya sendiri.

Ken Arok, dengan ketiadaan rasa, menikam Mpu Gandring dengan sebilah keris yang belum sepenuhnya jadi. Ketika belum benar-benar mati, Mpu Gandring meluapkan amarah, berserapah, akan jatuh korban lagi setelah dirinya. Karambol kematian terjadi dan ini tidak hanya menyangkut raga-sukma. Tetapi kematian menyeruduk senyawa-jiwa. Ken Arok, kehilangan keseimbangan karena aroma Ken Dedes. Ia tidak tahan, tidak berdaya pada perempuan.

Sebagai petinggi, Ken Arok, tidak bodoh dan merekayasa kasus; seakan-akan bukan dirinya yang menikamkan keris itu kepada Mpu Gandring. Ken Arok mempersonifikasi Kebo Ijo sebagai pembunuh terencana terhadap Mpu Gandring. Kebo Ijo, dieksekusi mati dengan keris yang sama.

Selanjutnya, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Sampai di sini, skenario Ken Arok berjalan mulus. Bahkan, Ken Arok meneruskan rencana berikutnya, menikahi Ken Dedes, yang ketika itu sedang mengandung (anak Tunggul Ametung, untuk selanjutnya lahir dan diberinama Anusapati). Sebelumnya, Ken Arok menikahi Ken Umang.
Ken Arok melakukan aksi pembunuhan ini karena terobsesi Resi Lohgawe (gurunya).

Dikisahkan, Lohgawe, siapa pun yang menjadikan Ken Dedes sebagai istri, segala keinginan akan tercapai. Memang, obsesi Ken Arok menjadi kenyataan. Ia, jadi penguasa Tumapel, mendirikan Singasari lalu mengangkat dirinya sebagai raja.

Waktu pun berlalu, cerita pun penuh warna. Anusapati tumbuh menjadi dewasa. Ia mengetahui Ken Arok lah yang membunuh ayahnya, Tunggul Ametung. Anusapati kemudian mengutus Ki Pengalasan untuk membunuh Ken Arok dengan Keris Mpu Gandring. Rencana tersebut berhasil. Untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan Keris Mpu Gandring. Anusapati, naik tahta, penguasa. Pembunuhan Ken Arok didengar Tohjaya (anak Ken Arok dengan Ken Umang). Ia menyusun rencana pembalasan untuk membunuh Anusapati.

Tohjaya membunuh Anusapati ketika sedang menggelar sabung ayam di sekitar Kutaraja Singasari. Tohjaya mengambil alih kekuasaan Singasari. Namun, Tohjaya juga dibunuh oleh Ranggawuni, putra dari Anusapati, dengan keris yang sama, Mpu Gandring. Ranggawuni, naik tahta menjadi penguasa Singasari.

Di era Ranggawuni, keris Mpu Gandring dimusnahkan, dibuang ke dalam kawah gunung. Itu terjadi sekitar tahun 1200-san, waktu itu, belum lahir Kerajaan Sambo. Tetapi nawaitu serupa pemufakatan jahat, ia hadir sebelum Singasari, Hirohito, tetapi setelah Kaisar JImmu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info