Gaji Jurnalis di Hari Buruh Masih di Bawah UMR

Aksi damai elemen buruh di Hari Buruh Internasional di Surabaya.

maduraindepth.com – Peringatan Hari Buruh Internasional setiap tanggal 1 Mei menjadi catatan khusus bagi seluruh elemen buruh. Utamanya buruh jurnalis yang bekerja di perusahaan media.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Surabaya Miftah Faridl mengatakan, berbicara buruh adalah berbicara soal kesejahteraan. Itu kaitannya dengan tanggung jawab sebagai seorang buruh.


Menurut dia, perusahaan industri sudah seharusnya memberi upah gaji sesuai upah minimum regional (UMR). Anehnya gaji yang tak sesuai UMR hampir dirasakan semua jurnalis di ibukota. Misalnya seperti Surabaya yang notabenenya sudah mencapai Rp 3,5 juta, masih ada yang digaji di bawah Rp 2 juta.

Jurnalis mengambil gambar aksi damai Hari Buruh Internasional di Gedung Grahadi Surabaya.

“Banyak gaji jurnalis di Surabaya digaji di bawah UMR. Misalnya Rp 2 juta, gajinya tidak lebih di atas ketetapan pemerintah Kota Surabaya. Apa yang kemudian mereka lakukan, sama sekali tidak ada,” kata Faridl saat dimintai keterangan oleh wartawan, Rabu (1/5).

Faridl menyampaikan, pekerja media tidak jauh berbeda dengan status buruh lain. Mereka juga mendapat tanggung jawab yang diikat oleh undang-undang profesi. Misalnya jaminan perlindungan ketenagakerjaan.

“Artinya ada hubungan industrial, seperti soal kesejahteraan, dan perlindungan. Namun hak perlinduntannya masih jauh dari kata layak,” ungkapnya.

Artinya, kata Faridl, kesadaran kelas sebagai pekerja harus terus disuarakan. Apabila kesadaran kelas tersebut tidak segera dibentuk, jangan kaget jika buruh jurnalis banyak yang dipecat atau diputus hak kerja. Jalan satu-satunya dengan berserikat menyuarakan hak buruh.

Baca juga:  Slamet Junaidi Kecewa dengan Pelayanan Puskesmas Kedungdung

“Kesadaran kelas harus segera dibangun sekarang supaya ketika ada ketidakadilan terutama dalam pengupahan dalam hal status ketenagakerjaan, itu bisa dilawan,” sarannya. (NR/MI)