BKKBN Sampang Akan Lakukan Pendataan Keluarga Mulai April-Mei

50
Pendataan Keluarga 2021 di Sampang
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk dan KB) Dinkes Sampang, Hanian Maria Farouq. (FOTO: Alimuddin/MI)

maduraindepth.com – Pemerintah terus berupaya menghasilkan potret kependudukan di Indonesia yang sehat. Sebab itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan melakukan pendataan keluarga (PK) yang digelar secara nasional melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk) dan Keluarga Berencana (KB) Dinkes Sampang Hanian Maria Farouq menyampaikan, pendataan akan dilaksanakan selama dua bulan penuh. Yakni mulai 1 April sampai 31 Mei 2021.


Dalam melakukan pendataan di lapangan, pihaknya akan melibatkan tim Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Sampang. “Saat ini kami masih dalam proses pelatihan kader pendata, yang membantu kami melakukan pendataan sampai ke tingkat desa,” ujar Maria, Rabu (17/3).

Maria mengungkapkan, pendataan tersebut dilakukan dalam lima tahun sekali. Sebelumnya juga pernah dilakukan pendataan pada 2015 silam. Namun karena pandemi, pendataan yang seharusnya dilaksanakan pada 2020 ditunda dan dilaksanakan pada 2021.

Dijelaskan Maria, hasil pendataan tersebut nantinya akan dijadikan acuan data untuk program selanjutnya. “Data yang kami ambil seperti jumlah KK keluarga prasejahtera, rumah sehat, jumlah akseptor KB aktif yang sudah ikut KB secara terus menerus setiap tahunnya,” imbuhnya.

Tidak cukup melakukan pendataan keluarga saja, Dinkes Sampang rupanya memiliki program baru yang berkaitan dengan stunting. Dalam hal ini, pihak Dinkes menggandeng sejumlah instansi.

Baca juga:  Inovasi Kesehatan, Dinkes Usung Program Bintang Bersinar Terang

“Seperti pertanian, koperasi, perikanan dan sebagainya, jadi beberapa lintas sektor harus ikut bersatu padu untuk mengentaskan stunting di Sampang,” tegasnya.

Kendati demikian, untuk mengentaskan stunting tersebut, pihaknya menekankan pada aspek pola pikir. Di sisi lain yang menjadi prioritas sasarannya adalah usia remaja atau yang dikenal dengan insan genre (Generasi Berencana).

“Memberikan pemahaman terkait usia menikah yang ideal, kalau di KB usia bagus perempuan 21 tahun dan laki laki 25 tahun, karena secara lahir batin dan reproduksi mereka juga siap, tinggal mengatur saja seperti melahirkan terlalu muda, terlalu banyak (anak), terlalu rapat (jarak kelahiran) dan terlalu tua (4T), dengan moto Dua Anak Lebih Sehat,” ungkapnya.

Pihaknya berharap kepada PLKB di setiap desa supaya terus mensosialisasikan tentang pentingnya pernikahan yang ideal. Kemudian ketika mempunyai anak bisa mengikuti program KB atau menjadi akseptor KB.

“Dalam hal KB kami punya target untuk angka kelahiran total atau total fertilitty rate (TFR) sebesar 2,0. Sementara di Sampang masih mendekati 3 jika dirata-rata,” pungkasnya. (Alim/MH)