banner auto

Amaen Pole e Taneyan, FKS 2023 Kenalkan Permainan Tradisional

FKS 2023 stedu sumenep tempo dulu
Bupati Sumenep saat menghadiri pagelaran FKS 2023. (Foto: Ridho M Subastian/MID)

maduraindepth.com – Dalam rangka mendekatkan serta mengenalkan budaya di sekitar, Komunitas Sumenep Tempo Dulu (STEDU), kembali gelar Festival Kultur Sumenep (FKS). Festival kali ini mengangkat tema Amaen Pole e Taneyan, berupa kegiatan pengenalan permainan tradisional yang mulai asing dan bahkan jarang dikenal oleh anak-anak, karena tergerus perkembangan teknologi.

Ketua Sumenep Tempo Dulu (STEDU), Faiq mengatakan, Sumenep kaya akan kultur dan budaya. Salah satu di antaranya yakni permainan tradisional.

“Makanya FKS 2023 mengangkat tema Amaen Pole e Taneyan, dengan kegiatannya yaitu mengenalkan permainan tradisional anak-anak Madura yang tidak kala seru dengan permainan yanh ada di handphone mereka. Selain itu juga ada lokakarya mengenai cara pembuatan permainan anak tradisional,” ujarnya, Sabtu (21/10).

Dia menjelaskan, sasaran dari kegiatan ini yakni peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Menengah (SMP). Selain untuk mengurangi penggunaan gadget, pengenalan permainan tradisional ini dapat membuat anak-anak dapat berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

“Festival Kultur Sumenep ke tiga kalinya ini terdapat tiga rangkaian, pertama yakni pameran temporer. Di sini kami memamerkan, mengenalkan sejumlah permainan tradisional anak-anak Madura yang mungkin saat ini juga sudah diketahui atau bahkan jarang ditemui, seperti can-macanan, rab-kerraban, kemudian kegiatan yang kedua yakni, lokakarya tentang pembuatan permainan tradisional,” kata Faiq.

Baca juga:  Gubernur Khofifah: Revitalisasi Pelabuhan Dungkek dan Gili Iyang untuk Maksimalkan Kinerja Ekonomi Sumenep

Sementara pada acara ketiga, yakni gelar wicara, budayawan serta tokoh Madura, mengenai permainan anak tradisional dan seputar lagu-lagu anak Madura. Kegiatan yang paling spesial pada FKS 2023 kali ini, lanjut dia, yakni Launching Mini Album lagu-lagu anak Madura.

“Kegiatan tersebut di konsep secara kolaboratif yang melibatkan Sekolah Dasar, serta beberapa komunitas-komunitas yang konsen di bidang kebudayaan,” pungkasnya. (*)

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya DI SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner auto