maduraindepth.com – Warga Dusun Gunung Kesan Maju Barat, Desa Paopale Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, memilih tidak menunggu. Ketika akses jalan di wilayah mereka lama rusak dan tak kunjung diperbaiki, mereka mengumpulkan dana sendiri dan mulai mengecor jalan desa secara swadaya.
Dalam setahun terakhir, kegiatan itu sudah dilakukan empat kali. Pengecoran terbaru membentang sekitar 750 meter, menghubungkan kawasan Palampal hingga Gunung Setengki, jalur yang selama ini menjadi akses utama warga.
Koordinator kegiatan, Muzehri, mengatakan pembangunan dilakukan bertahap, mengikuti kemampuan dana yang terkumpul. Untuk satu tahap pengerjaan, dibutuhkan waktu sekitar empat hingga empat setengah bulan, sejak pengumpulan hingga pelaksanaan.
“Ini sudah yang keempat kalinya dalam setahun. Kami kerjakan sesuai dana yang ada,” kata Muzehri, Rabu (28/1/2026).
Total anggaran untuk satu ruas jalan itu mencapai sekitar Rp 200 juta. Sekitar 80 persen berasal dari sumbangan warga setempat. Nilainya beragam, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp1 juta per orang. Selain uang, sebagian warga menyumbang material, termasuk adukan beton.
Pengerjaan dilakukan secara gotong royong. Para pemuda terlibat langsung di lapangan, mulai dari pengangkutan material hingga proses pengecoran.
Ahmad, salah satu warga yang ikut bekerja, mengatakan keterlibatan itu bukan sekadar membantu, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama.
“Capek pasti, tapi ini jalan kampung sendiri. Kalau bukan kami, siapa lagi,” ujarnya.
Peran perempuan juga terlihat dalam kegiatan ini. Selain ikut menyumbang, mereka terlibat dalam penggalangan dana dan menyiapkan kebutuhan logistik bagi pekerja.
Romlah, warga setempat, mengaku sejak awal ikut berpartisipasi. “Kami ikut minta amal, ikut nyumbang, kadang bantu konsumsi. Yang penting untuk kepentingan bersama,” katanya.
Warga memilih menggunakan rabat beton karena dinilai lebih tahan lama dibandingkan aspal, terutama untuk kondisi jalan desa yang rawan rusak. Hasilnya mulai terlihat. Ruas jalan yang sebelumnya berlubang dan sulit dilalui kini berubah menjadi akses yang lebih stabil.
Di sejumlah wilayah sekitar, pola serupa mulai diikuti. Beberapa desa mulai menggalang dana mandiri untuk memperbaiki infrastruktur dasar, dengan dukungan masyarakat setempat.
Di Ketapang, pembangunan jalan itu berjalan tanpa papan proyek dan tanpa alokasi anggaran pemerintah. Ia tumbuh dari iuran warga, pelan, tetapi terus berlanjut. (Poer/MH)














