Tiga Komponen Pemberdayaan yang Bakal Memajukan Indonesia

0
41
Auditorium IAIN Madura, seminar nasional yang diadakam UKM PI & Riset IAIN Madura.

maduraindepth.com – Pengasuh Pesantren Luhur Kepanjen Ach. Dhofir Zuhri mengatakan Indonesia memiliki tiga komponen pemberdayaan yang saling berkesinambungan. Apabila ketiga komponen tersebut dirawat dengan baik Indonesia bakal maju dan cepat berkembang.

Tiga komponen pemberdayaan tersebut meliputi, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya ideologi pancasila (SDIP). Menurut Dhofir SDIP telah dipercaya sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Sehingga setiap pergolakan politik yang terjadi bisa diselesaikan melalui SDIP.

Dhofir menjelaskan, politisasi agama sangat laris digunakan oleh berbagai negara di dunia dan mereka mengalami akhir yang memuaskan. Trump jadi presiden sebab menggunakan strategi politisasi agama, begitu juga negara-negara yang lain.

Kendati demikian, kata Dhofir, di dunia barat sebenarnya sudah berusaha memadukan agama untuk melahirkan kedamaian. Sebab Indonesia memiliki ideologi pancasila yang memang hasil ramuan dari kehidupan bangsa Indonesia.

Dia menuturkan, politik akan diterima oleh bangsa Indonesia bila melalui SDIP, sebab pancasila tidak pro terhadap salah satu oknum agama ataupun golongan, akan tetapi pro terhadap semua oknum, agama, ataupun golongan yang ada di Indonesia. Bila peta politik menggunakan strategi yang bisa diterima oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan.

“Sumber Daya Ideologi Pancasila lebih diterima oleh Bangsa Indonesia dalam berpolitik, sebab tidak memihak salah satu agama,” jelasnya saat mengisi Seminar Nasional yang bertema “Aktualisasi Filsafat Dalam Dunia Politik”.

Dia menambahkan, ketika agama digunakan sebagai strategi politik atau politisasi agama maka bagaimana dengan agama yang lain, yang jelas agama yang lain tidak akan setuju dengan pemimpin yang diusung yang berangkat dari salah satu agama.

“Jika politisasi agama yang direalisasikan maka agama yang lain tidak akan terima dengan strategi itu,” tutur tokoh filsafat asal Malang tersebut. (ek/ns)