Tak Punya Rumah Pasca Kebakaran, Purinti Tinggal di Langgar

Purinti
Purinti bersama putranya di langgar peninggalan suaminya. (FOTO: Harizah/MI)

maduraindepth.com – Purinti, 58 tahun, kehilangan rumah setelah insiden kebakaran beberapa waktu lalu. Perempuan asal Dusun Seban, Desa Karang Penang Oloh, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang itu belum mampu untuk membangun rumahnya kembali.

“Dengan musibah yang menimpa ini, kami sudah menerima dengan lapang dada dan ikhlas akan kehendak Allah SWT,” tutur Purinti, lirih mengawali pembicaraan, Jumat (12/8).

Rumah Peninggalan Suami

Semenjak suaminya meninggal, Purinti menjadi tulang punggung keluarga. Ia hidup bersama putranya, Sahrul, 22 tahun.

Purinti mengatakan, dua unit rumah yang terbakar pada pada Senin (8/8) lalu merupakan satu-satunya tempat tinggal peninggalan almarhum suami. Namun, sejak insiden itu, semuanya lenyap.

“Rumah ini juga merupakan peninggalan dari suami saya,” kata Purinti.

Pasca insiden kebakaran, Purinti shock dan sempat tidak sadarkan diri. Ia bingung, kemana mencari tempat tinggal.

Dengan kondisi seperti itu, ia pesimis bisa membangun rumahnya kembali. Sebab tak ada sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Sementara hasil bertani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Meski demikian, ia masih bisa bersyukur karena anak semata wayangnya masih bisa membantunya bertani di sawah. “Dengan keadaan yang seperti ini, semoga saya masih selalu diberikan kesabaran, keikhlasan, serta ketabahan dalam menghadapi ini semua,” ucapnya.

Makan, Salat dan Tidur di Langgar

Tak ada yang tersisa akibat insiden kebakaran tersebut. Kecuali satu unit langgar dan dapur kecil yang terbuat dari kayu dan bambu.

Langgar itu kemudian menjadi tempat multifungsi bagi Purinti dan anak semata wayangnya. Mulai melaksanakan ibadah [salat], makan, hingga tidur.

Tanpa kasur dan bantal, perempuan yang memiliki riwayat darah tinggi dan diabetes itu beristirahat di langgar tersebut. “Sambil meratapi keadaan saat ini,” sambungnya.

Beberapa hari pasca insiden kebakaran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan bantuan yang diterimanya. Termasuk bantuan pemerintah. Namun kebutuhan primer baju layak pakai dan lainnya masih kurang.

“Kami juga butuh bantuan untuk kesehatan,” tuturnya.

Meski dalam kondisi ekonomi terhimpit, Purinti tetap bersabar dan menganggap semua yang dialaminya itu sebagai ujian. “Dengan keadaan yang seperti ini, semoga saya masih selalu diberikan kesabaran, keikhlasan, serta ketabahan dalam menghadapi ini semua,” ujarnya.

“Semoga dengan ujian ini lebih memperkuat nikmat iman sebagai hamba Allah,” harapnya. (RIZ/RIF/MH).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Kirim Info