SMKN 1 Sumenep Tarik Sumbangan Pada Siswa, Bolehkah?

0
98
(Kanan) Komite Sekolah, Yudi Sutiono. (Kiri) Kepsek SMKN 1 Sumenep, Zainol Sahari, (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Sekolah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sumenep, Madura, Jawa Timur, menarik sumbangan sebesar Rp 245.000 kepada seluruh siswanya dalam program perbaikan pagar sekolah dan paving. Penarikan sumbangan dilakukan kesemua siswa mulai dari kelas X sampai kelas XII semua jurusan, dengan keseluruhan siswa mencapai 1.500 murid.

Penarikan sumbangan sendiri telah disosialisasikan pada bulan Agustus 2019 lalu oleh komite sekolah saat Kepala Sekolah (Kepsek) tengah bepergian keluar kota. Pungutan tersebut ditargetkan harus lunas sebelum ujian sekolah dimulai.

Mengenai hal itu, salahsatu wali siswa inisial H mengaku keberatan. Pasalnya, dengan nominal yang cukup lumayan tinggi, masih juga dibebankan membayar uang Tabungan Khusus (Tabsus) yang setiap bulannya mencapai Rp 50.000.

“Saya hanya takut tidak bisa membayar sumbangan ini, padahal masih ada uang Tabsus Rp 50 ribu setiap bulan, ditambah uang pagar dan paving ini,” kata H, yang termasuk keluarga miskin ini, Senin (2/12).

Menurut dia, penarikan uang tersebut terkesan menekan dan memberatkan bagibdirinya. “Mau tidak mau saya harus bayar, demi anak saya harus bisa ikut ujian, meski ini dirasa sulit. Karena pembayaran itu ditekan pihak sekolah, sebelum ujian bulan Desember di mulai, harus lunas,” terangnya dengan suara gemetar.

Sementara itu, saat ditemui di SMKN 1 Sumenep, Kepsek bersama komite sekolah menerangkan, jika pembayaran sumbangan sudah sesuai dengan kesepakatan wali siswa. “Sudah sesuai dengan kesepakatan wali siswa. Tapi misalkan tidak mampu, silahkan datang ke sekolah, pasti dibebaskan,” ungkap Yudi Sutiono, Komite SMKN 1 Sumenep.

Selain itu, Kepsek SMKN 1 Sumenep, Zainol Sahari, juga membenarkan keterangan perihal penarikan sumbangan dengan ploting nominal Rp 245.000 tersebut.

“Program ini tidak harus terwujud, kalau memungkinkan silahkan, kalau tidak ya tidak usah. Karena saya tidak ingin sekolah jadi beban,” katanya, pada awak media.

Bahkan, dia menyampaikan, apabila hal tersebut dirasa berat, penarikan sumbangan yang menjadi programnya itu tidak dibayar secara utuh tidak jadi masalah. Sebab, siswa tetap harus mengikuti ujian meski belum melunasi penarikan sumbangan yang sudah disepakatinya itu.

“Tadi pagi sudah saya sampaikan, jangan sampai ada siswa yang tidak ikut ujian gara-gara biaya. Apalagi hanya karena pagar ini, semuanya harus ikut ujian,” tegas dia.

Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Sumenep, Sugiono Eksantoso mengaku belum mendapat laporan mengenai penarikan sejumlah uang kepada siswa di SMKN 1 Sumenep. “Wah itu tidak boleh, sampai saat ini belum ada laporan masuk ke saya terkait adanya penarikan sumbangan di sejumlah SMA/SMK sederajat,” paparnya, saat dihubungi melalui sambungan selulernya.

Sedangkan, Kepsek SMKN 1 Sumenep, mengklaim bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kacabdin Sumenep. “Sudah kok kami laporan, tapi tidak secara tertulis. Kami tidak sembarangan juga mengambil keputusan,” pungkasnya. (MR/MH)