Singgasana, Relasi Kekuasaan versus Kebuasan

Resonansi
Mas@be Zain
Oleh: Mas@be Zain

maduraindepth.com – Setiap manusia, ingin mendapatkan kebahagiannya sendiri, dengan caranya sendiri; bermacam-macam. Ada yang mendapatkan dengan cara menyenangkan. Ada pula yang memperolehnya terlebih dahulu harus melenyapkan, mensenyapkan, masih banyak lagi yang lainnya (Rhoma Irama, 135 Juta).

Elizabeth Bathory, seorang istri bangsawan asal Hungaria. Ia merasa bahagia , apabila selalu terlihat cantik dan awet muda. Tetapi untuk mendapatkan itu, ia memposisikan diri sebagai vampir, mandi dengan darah wanita muda yang telah dibunuh, hanya untuk menjaga kulit muda dan kecantikannya. Dari tahun 1585 hingga 1610, lebih dari 650 gadis muda terbunuh olehnya dengan cara yang keji. Meski telah terbukti membunuh, hukum tak menyentuhnya karena pengaruh keluarga, semacam kakak asuh kalau di Indonesia.

Ada juga Ranavalona I yang menguasai pulau di selatan Afrika selama 33 tahun lamanya. Pertumpahan darah, arogan, sombong dan kejam merupakan hal identik dari diri perempuan ini. Awalnya, ia gadis dari latar keluarga biasa. Tetaoi prilakunya berubah setelah diangkat menjadi bagian dari keluarga kerajaan pasca ayahnya membocorkan pembunuhan calon raja, Andrianampoinimerina.Untuk mendapatkan kekuasaan penuh, tak disangka Ranavalona kemudian menghabisi nyawa keluarga kerajaan yang berhak atas tahta. Lebih dari 10 ribu orang atau mencapai 75 persen populasi masyarakat yang tewas di masa pemerintahan Ranavalona I.

Kisah Isabela dari Kastila, Ratu Spanyol, tidak jauh berbeda. Ia juga melanggengkan tahta dengan cara sara. Wu Zetian juga sama, di China, di jamannya. Satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah dinasti kekaisaran di Tiongkok mendapatkan posisi tertinggi di kerajaan dengan cara licik dan sadis. Salah satu bentuk kesadisan Wu antara lain ia membunuh putrinya sendiri untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Di kekaisaran Romawi era Claudius, para istri kaisar ini berencana untuk membunuh kaisar sendiri. Istri (ketiga) Claudius, Valeria Messalina pernah merencanakan pembunuhan kepada suaminya. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi di dalam pikirannya bila seorang keluarga hendak membunuh yang seharusnya disayangi. Tetapi akhirnya, Messalina tertangkap dan dieksekusi pada usia 48 tahun, setelah lawan politiknya berusaha untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Namun istri istri kaisar lainnya, Agrippna, tercapai kehendaknya, dan berhasil membunuh suaminya sendiri dengan cara meracuni.

Yang paling horor, adalah Ratu Mary I (Inggris) yang memiliki kebiasaan menghabisi nyawa orang lain hanya karena berbeda pandangan atau tidak sama dalam keyakinan. Begitu seringnya membunuh, ia dijuluki Bloody Mary. Ia menggerakkan roda kekuasaan dengan membuat rasa takut yang sengaja diciptakan. Bila pada akhirnya ia menemukan masyarakatnya mengkritik dan atau tidak setuju dalam kebijakannya, Bloody Mary tidak segan membakar warganya hidup-hidup maupun menghukumnya sampai mati.

Maka, apa yang sebenarnya dicari dalam hidup bila bentangan kekuasaan sebangun dengan obat yang memuat unsur kadaluarsa? Di era modern, individu yang sudah mengetahui tujuan hidupnya secara jelas, dianggap telah memenuhi kriteria utama dalam menuju kebahagiaan. Patrick Ness, novelis, menulis bahwa kehidupan tidak ditulis dengan kata. Kehidupan mengukirkan tindakan yang penting. Dengan begitu, seseorang akan berderap menuju tujuan hidup. Walaupun, tujuan hidup tidak menjaminkan kebahagiaan, namun setidaknya, dengan sesuatu yang penting tadi, ia merasa lebih bahagia dengan kehidupan. Lalu, seberapa pentingkah kita bagi kepentingan orang lain, untuk sesuatu yang penting dalam hidup dan mati ini? (*)

banner 728x728

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

banner 728x90
WhatsApp Kirim Info