PIWS Disoal, Kadin Sumenep: Habis Pelatihan Dilepas, Mau Jadi Apa Dia?

Istimewa

maduraindepth.com – Program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam mencetak 1000 wirausaha disoal. Pasalnya hingga saat ini peserta Pusat Inkubator Wirausaha Sumenep (PIWS) belum mendapatkan kejelasan.

Seperti diceritakan Ali Fikri salah satu peserta PIWS. Alumni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pendidikan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Sumenep ini mengikuti program PIWS pada tahun 2017.


Menurutnya, selama pelatihan dari PIWS dua tahun lalu sampai saat ini belum ada perkembangan usahanya. “Awalnya sempat berjalan, saya sempat jualan pentol, tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucapnya, Kamis (10/10/2019) kemarin.

Sampai saat ini, kata Fikri, dirinya belum menemukan kejelasan bagaimana kedepan terkait pelatihan yang pernah diikutinya itu. “Saya sempat nanya juga sama yang lain, mereka sempat jualan juga, tapi karena sebagian alat yang ada di teman itu ada yang rusak, akhirnya mandek,” katanya.

Bahkan, bantuan alat yang diberikan PIWS kepada Fikri, belum jelas peruntukannya. Dirinya juga mengatakan, pelatihan itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya dari awal.

“Awalnya kan saya daftar pelatihan lebah madu, tapi tidak tau kenapa kemudian saya dimasukkan di olahan daging,” ujarnya dengan nada kecewa.

Disinggung terkait adanya suntikan modal dari PIWS, dia mengaku sampai sekarang belum ada. “Sempat ada tawaran modal dari panitia PIWS itu, tapi itu kita yang kerja keuntungannya dibagi berapa persen gitu, tapi sampai sekarang gak ada kejelasan lagi,” jelasnya.

Baca juga:  Tenaga Honorer Kejari Bangkalan Jadi Pasien OTG Positif Corona ke-12

Hingga saat ini, PIWS tidak melakukan monitoring kepada tiap-tiap peserta. Sementara Fikri sendiri, saat ini telah bekerja sebagai tukang pelitur sembari berharap PIWS lebih baik lagi.

“Ada tapi itu ke ketuanya, lama sudah, katanya monitoring gitu,” tandasnya.

Tanggapan Kadin Sumenep Soal PIWS

Terpisah, ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Sumenep Hairul Anwar mengatakan, peserta PIWS setelah lulus dari pelatihan seharusnya dibimbing secara intensif untuk menjadi pengusaha. Kemudian diberikan akses modal, akses pasar dan proteksi.

“Kalau sekarang habis pelatihan selesai dilepas, mau jadi apa dia, ya tetap jadi pengangguran. Kan sama aja dengan di Balai Latihan Kerja (BLK). Mungkin jadi monitor kalau di BLK, bukan jadi pengusaha tapi jadi pekerja,” terangnya.

Hairul mengibaratkan, peserta PIWS layaknya seorang bayi yang lahir tidak sempurna. Agar bisa bertahan hidup, maka harus dimasukkan ke dalam inkubator dan diawasi secara intensif.

“Namanya inkubator itu harus begitu. Cuma tidak ada sinergi antara PIWS ini dengan dinas-dinas terkait,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, PIWS merupakan salah satu program Pemkab Sumenep dalam rangka mengurangi pengangguran. Di era kepemimpinan Bupati Busyro Karim dan Wakilnya Achmad Fauzi, angka pengangguran di Kota Sumekar bisa tuntas dalam lima tahun. (MR/MH)