“Ghendrang” Cara Unik Masyarakat Pulau Mandangin Bangunkan Orang Sahur Selama Ramadan

Gendrang Pulau Mandangin
Sejumlah warga saat memainkan Ghendrang sebelum waktu sahur tiba di Desa Pulau Mandangin, Sampang, pada ramadan 1442 Hijriyah. (Foto: Alimuddin/MI)

maduraindepth.com – Umumnya, sekelompok orang akan menabuh berbagai alat musik dan berkeliling pada bulan puasa. Tujuannya, membangunkan masyarakat sekitar untuk sahur. Pemandangan itu juga terlihat pada ramadan 2021 di Pulau Mandangin, Sampang.

Masyarakat di salah satu desa di Kota Bahari ini memiliki tradisi tersendiri untuk membangunkan orang sahur. Ghendrang. Begitulah warga setempat menyebutnya.


Biasanya, sekelompok orang akan keliling sembari memainkan musik. Alat musiknya terdiri dari bambu atau biasa dikenal dengan tong-tong, gendang, serta alat-alat lain yang berbunyi nyaring.

Tak hanya itu, kebiasaan masyarakat Pulau Mandangin ini dalam membangunkan orang sahur juga biasa menggunakan alat pengeras suara. Tradisi Ghendrang ini bisa menjadi semangat tersendiri bagi warga untuk memulai ibadah puasa.

Gelapnya malam mulai bergeser menuju pagi dini hari di musim kemarau 2021. Sekelompk remaja desa sudah bergerombol di sudut simpang empat di wilayah Desa Pulau Mandangin, Kecamatan/Kabupaten Sampang.

Berjalan kaki keliling desa, bernyanyi diiringi alunan musik rancak yang menghibur sambil mengingatkan waktu sahur tiba kepada warga.

Ghendrang Keliling itu Masih Mentradisi dari Generasi ke Generasi

“Ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh warga Mandangin. Biasanya digelar mulai pukul 24.00 sampai pukul 03.00 pagi. Tujuannya tak hanya membangunkan orang sahur, namun juga untuk menghibur masyarakat,” kata Moh. Rois, salah seorang remaja Desa Pulau Mandangin, Senin (19/4).

Baca juga:  Pasca Tajul Muluk dan Pengikutnya Berikrar : Antara Pembinaan dan Kondusifkan Dua Kubu

Sementara itu, pegiat musik Ghendrang Pulau Mandangin Humaidi menjelaskan, tradisi Ghendrang sudah bertahun-tahun menjadi salah satu kegiatan seni musik masyarakat Pulau Mandangin. Khususnya pada bulan suci ramadan.

“Kebiasaan memeriahkan bulan puasa menjelang sahur. Salah satunya dengan memainkan Ghendrang,” ujarnya.

Dijelaskan, Ghendrang tetap mentradisi dan menjadi sisi lain yang istimewa saat bulan suci ramadan di Desa Pulau Mandangin.

“Saya mengapresiasi, selama tidak mengganggu masyarakat sekitar dan dilakukan dengan tertib. Ini bukti bahwa di era digitalisasi, pemuda masih mempertahankan tradisi,” ujar Humaidi pada maduraindepth.com.

Menurut dia, Ghendrang harus tetap menjadi salah satu tradisi yang perlu dirawat oleh para generasi. Sebab di era saat ini tak jarang generasi muda kebanyakan merasa nyaman, bahkan sampai lupa akan kebiasaan budaya warisan nenek moyang.

“Ghendrang pertunjukkan hiburan masyarakat Mandangin saat Ramadan. Tradisi ini sudah dari dulu ada dan perlu dirawat oleh pemuda desa,” harapnya. (Alim/BAD)