Al-Ihsan Jrangoan Sampang, Pesantren Tua Lahirkan Banyak Pemuka

0
622
Pondok Pesantren Al-Ihsan Jrangoan, Kecamatan Omben, Sampang.

maduraindepth.com – Pondok Pesantren Al-Ihsan Jrangoan menimbun mutiara sejarah. Dibalik berdirinya pesantren tua, kiprah alumni banyak disegani di berbagai nusantara. Tak ayal jika pondok pesantren ini dinilai menjadi sumber pengetahuan agama.

Cikal bakal berdirinya pesantren Al-Ihsan yang terletak di Desa Jrangoan Kecamatan Omben Kabupaten Sampang ini berawal dari rangkaian historis yang cukup menakjubkan. Keunikan lanskap dan kultur pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat untuk mengabdi dan mengaji ke KH. Mahrus Abd Malik tersebut.

Dari lingkungan pesantren ini lahir banyak sekali tokoh pembimbing masyarakat. Baik ditingkat  lokal, regional, hingga nasional. Dai kondang seperti KH. Abdurahman Navis, KH. Cholil Navis, dan banyak kiai lainnya lahir dari pesantren ini.

Munculnya daerah Jrangoan ini, berawal dari seorang panembahan Bangkalan, adalah gelar yang levelnya berada di bawah Sultan atau Raja Agung. Dia menyaksikan sebuah sinar menembus langit memancar terang di bumi bagian utara Sampang.

Melihat hal aneh, Sang Panembahan meminta seorang Ulama asal Sampang bernama Syaikh Qobul (Bhuju’ Aji Gunung) untuk memeriksa lokasi yang dimaksud. Syaikh Qobul lalu menyuruh santrinya bernama Abdul Jabbar (Bhuju’ Napo) untuk melihat daerah yang dikabarkan oleh Sang Panembahan.

Setibanya di kawasan yang kelak bernama desa Jrangoan ini, Abdul Jabbar menemukan sebuah makam tua dan sumber mata air jernih. Kini, kuburan tua itu masyhur dengan sebutan makam Bhuju’ Syaikh. Abdul Jabbar pun membersihkan makam tersebut lalu kembali ke Syaikh Qobul.

Usai Abdul Jabbar melaporkan temuannya kepada Syaikh Qobul yang kemudian laporan itu disampaikan Syaikh Qobul kepada Panembahan Bangkalan, Sang Panembahan kemudian kembali meminta Syaikh Qobul untuk mencarikan juru kunci untuk mengurus makam temuan itu.

Sang Panembahan juga berjanji kepada Syaikh Qobul untuk membebaskan dan mewakafkan semua tanah yang ada di sekitar makam kepada juru kunci yang akan dipilih.

Maka, Syaikh Qobul selaku orang kepercayaan Panembahan Bangkalan memandatkan amanat sebagai juru kunci itu kepada anaknya sendiri bernama Raden Ahmad.

Mandat dipenuhi dan janji ditepati; tanah dibebaskan dan diwakafkan. Bahkan, dibebaskan dari beban pajak pemerintah. Makanya di kalangan masyarakat sekitar desa Jrangoan menyebut daerah itu sebagai kawasan tanah ‘mardikah’ lantaran tidak dikenakan wajib pajak hingga era kemerdekaan.

Asal Usul Nama Jrangoan

Raden Ahmad dianggap sebagai tokoh pertama yang mengenalkan Islam di kawasan Jrangoan dan sekitarnya. Mulanya Raden Ahmad mengenalkan dakwah Islamiyyah kepada masyarakat sekitar dengan memberikan bimbingan mengaji kepada anak-anak gembala (pengembala) di kawasan tersebut.

Itulah yang menjadi cikal-bakal nama Jrangoan terdiri dari dua suku kata yaitu Jhere dan Nguan. Jere berasal dari Ajherreh yang artinya belajarnya, sedangkan Nguan artinya gembala.

Kalau diterjemah lengkap, Jrangoan artinya belajarnya (seorang) pengembala. Bermula dari proses edukasi para  pengembala ini kemudian Jrangoan di bawah asuhan Raden Ahmad tumbuh menjadi pusat pendidikan masyarakat yang kini bermetamorfosa dan dikenal dengan nama pondok pesantren Al-Ihsan Jrangoan. (AR/NR)