Kabupaten Sumenep Gelar Kontes Ayam Bekisar Nasional 2026, Dorong Pelestarian Ayam Bekisar Kangean

Kepala dinas Disbudporapar Kabupaten Sumenep,Faruk Hanafi. (Foto : Dok.MID )

maduraindepth.com- Suara merdu ketukan kokok ratusan ayam bekisar menggema di halaman Kantor Bupati Sumenep pada Minggu (25/10/2026). Rangkaian Lomba Seni Suara Ayam Bekisar Tingkat Nasional 2026 yang masuk dalam agenda resmi Calendar of Event Kabupaten Sumenep tahun ini sukses memikat antusiasme tinggi dari para pecinta dan komunitas unggas hobi dari berbagai penjuru Nusantara.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi menegaskan bahwa kejuaraan berskala nasional tersebut digelar sebagai langkah konkret pemerintah daerah dalam menggaet keterlibatan publik untuk menjaga kelestarian hewan ikonik khas Bumi Sumekar.

Menurut Faruk, agenda tahunan ini tidak hanya dirancang sebagai panggung adu ketangkasan suara maupun estetika fisik ayam bekisar. Lebih jauh, kompetisi ini bertindak sebagai benteng pertahanan dalam merawat keberadaan spesies tersebut sebagai warisan keanekaragaman hayati yang sarat akan nilai historis.

“Upaya melestarikan ayam bekisar memerlukan kontribusi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, terutama dari kalangan komunitas penghobi. Melalui ajang berskala nasional ini, kami berupaya memupuk rasa bangga sekaligus kepedulian publik terhadap fauna kebanggaan daerah,” jelas Faruk Hanafi saat diwawancarai awak media Maduraindepth.

Ia menerangkan, ayam bekisar yang lahir dari persilangan antara ayam hutan jantan dan ayam kampung betina merupakan spesies endemik asli dari Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep.

Baca juga:  Berikut Peraih Juara Kontes Bonsai Dandim Cup 2022

Karakteristik suaranya yang melengking khas dipadukan dengan pesona corak bulunya yang indah menjadikan unggas ini ditetapkan sebagai maskot fauna resmi Provinsi Jawa Timur.

Faruk menambahkan, walaupun saat ini persebaran dan basis penggemar ayam bekisar telah merambah hingga ke berbagai daerah di Indonesia, Kabupaten Sumenep sebagai tanah asal tetap memikul beban moral untuk mengawal keberlanjutan proses pengembangbiakannya.

“Ayam bekisar bukan sekadar unggas hobi, melainkan simbol identitas budaya dan kekayaan alam kita. Kehadirannya di tengah masyarakat wajib terus kita jaga dan budayakan agar potensi keunggulannya tidak punah digerus zaman,” tegasnya.

Untuk diketahui, ajang yang diikuti oleh 372 ekor ayam bekisar dari berbagai daerah di Indonesia ini menghadirkan persaingan sengit di sejumlah kategori bergengsi, di antaranya kelas utama, madya, pratama, gacoran, serta kategori penilaian best performance.(Arif Coolbreak/MID)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *