Peringati Satu Dasawarsa Jejak Tradisi, Pemkab Sumenep Gelar Haul Akbar dan Jamasan Keris di Aengtongtong

Suasana saat acara Jamasan pusaka di Desa Aengtongtong kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep. (Foto: Arif Coolbreak/MID)

maduraindepth.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kembali menggelar tradisi Jamasan Keris Pusaka yang dirangkai dalam acara Haul Akbar bertajuk “Satu Dasawarsa Membuka Jejak Tradisi”. Acara sakral yang menjadi kebanggaan masyarakat ini berlangsung khidmat di Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Rabu (24/6/2026).

Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, menegaskan bahwa tradisi jamasan keris memiliki makna spiritual dan moral yang jauh lebih dalam dibanding sekadar membersihkan fisik benda pusaka. Menurutnya, ritual ini adalah manifestasi dari pembersihan diri.

“Jamasan keris mengajarkan kita untuk selalu melakukan introspeksi diri. Bukan hanya membersihkan pusaka, tetapi juga membersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan berbagai perilaku yang dapat merusak keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Imam Hasyim dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, keris merupakan simbol kehormatan, kebijaksanaan, dan kearifan para leluhur, bukan sekadar warisan benda mati. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peringatan Tahun Baru Islam menjadi momentum yang sangat tepat untuk memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Acara budaya ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Muspika, Dewan Empu, tokoh masyarakat, serta budayawan. Menariknya, pesona Jamasan Pusaka Aengtongtong juga berhasil menarik antusiasme tamu dari luar daerah, seperti Direktur Museum Gubuk Wayang Mojokerto,serta para pegiat tosan aji dari Solo dan Bogor.

Baca juga:  Nataru di Sampang Tempat Wisata Tetap Buka, Disporabudpar: Jangan Nyalakan Kembang Api dan Petasan

Perwakilan empu keris asal Sumenep, Ika Arista, mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan tradisi ini. Ia menceritakan bahwa jamasan sejatinya sudah berlangsung turun-temurun di ruang terbatas. Namun, pada 2017, paguyuban Pelar Agung bersama Pemkab Sumenep berinisiatif membuka acara ini untuk khalayak umum sebagai sarana edukasi.

“Langkah ini adalah kontribusi nyata untuk memperkuat posisi Sumenep sebagai Kota Keris. Tidak hanya karena jumlah empunya yang banyak, tetapi karena kesadaran masyarakatnya dalam merawat warisan. Puncaknya, pada tahun 2025 kemarin, Jamasan Pusaka Aengtongtong resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Indonesia. Terima kasih kepada Pemkab dan Disbudporapar Sumenep,” ungkap Ika penuh haru.

Kehadiran para tamu dari berbagai kota, lanjut Ika, menjadi bukti nyata bahwa keris mampu mempertemukan persaudaraan, pengetahuan, dan kecintaan terhadap budaya nusantara. Momen ini juga terasa istimewa karena menjadi wadah bertemunya dua generasi empu keris, bukan hanya sebagai ajang kumpul perajin, melainkan perayaan rasa syukur.

“Satu dasawarsa bukanlah perjalanan singkat bagi keluarga besar Pelar Agung. Ada waktu, tenaga, pikiran, dan pengorbanan demi menjaga nyala api pelestarian budaya ini. Apa yang kita lihat hari ini adalah hasil dari ketulusan dan pengabdian panjang,” tutupnya.

Melalui pelaksanaan tradisi ini, Pemkab Sumenep berharap seluruh elemen masyarakat terus bersinergi. Tidak hanya dalam menjaga fisik warisan budaya, tetapi juga meneladani nilai-nilai luhur di dalamnya guna memperkuat persatuan dan kerukunan sosial di masa mendatang.(Arif Coolbreak/MID)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *