Rupiah ‘Tersengat’ Perang AS-Iran, Tembus Rp17.600 per Dolar AS

Istimewa.

maduraindepth.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu gejolak pasar global. Pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi, rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat, sekaligus mendekati titik terlemah sepanjang sejarah.

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global. Investor cenderung memburu aset aman seperti dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Sejumlah laporan pasar menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp 17.603 hingga Rp 17.612 per dolar AS pada awal perdagangan. Pelemahan ini melanjutkan tren depresiasi rupiah dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Konflik AS-Iran dinilai memberi tekanan besar bagi negara berkembang pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Ketika harga minyak melonjak, kebutuhan impor energi meningkat dan memperbesar permintaan dolar AS di dalam negeri. Kondisi tersebut mempersempit ruang stabilisasi rupiah, terutama di tengah arus modal asing yang mulai keluar dari pasar obligasi dan saham domestik.

Selain faktor geopolitik, penguatan indeks dolar AS juga menjadi pemicu pelemahan rupiah. Data pasar global menunjukkan dolar menguat setelah inflasi energi di Amerika Serikat kembali meningkat akibat gangguan pasokan minyak dunia.

Baca juga:  Kibarkan 98 Juta Bendera di Sampang Selama Tiga Hari, Kiai Itqon: Pengabdian Kita untuk Negeri

Pelemahan rupiah kali ini memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi domestik. Depresiasi kurs berpotensi meningkatkan harga barang impor, mulai dari bahan baku industri, pangan, hingga produk elektronik dan obat-obatan.

Sejumlah pelaku usaha memperingatkan kenaikan biaya produksi dapat menekan margin industri manufaktur nasional.

Bank Indonesia diperkirakan akan memperkuat langkah stabilisasi di pasar valuta asing dan obligasi guna meredam volatilitas. Namun tekanan eksternal dinilai masih besar selama konflik di Timur Tengah belum mereda.

Situasi ini mengingatkan pasar pada periode krisis moneter 1998 ketika rupiah mengalami tekanan tajam akibat kombinasi sentimen global dan lemahnya kepercayaan pasar. Meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai lebih kuat dibanding era krisis Asia, gejolak eksternal tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar. (*)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *