Tradisi Jamasan Pusaka Keraton, Wabup Sumenep: Jangan Korbankan Budaya di Era Modernisasi

0
82
Wabup Sumenep Jamasan
Wabup Sumenep Achmad Fauzi, saat terima pengembalian keris keraton. (Foto: MR/MI)

maduraindepth.com – Dalam rentetan Visit Sumenep 2019, Pemerintah Kabupaten Sumenep menggelar Jamasan dan Kirab Pusaka Keraton. Kegiatan ini merupakan tradisi pengembalian pusaka keraton oleh empu keris kepada keluarga besar keraton Sumenep.

Sehari sebelumnya, dilakukan penjamasan di Desa Aeng Tong-tong, Sumenep. Kini ini pusaka Keris Keraton Sumenep diterima langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Ahmad Fauzi, di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Senin (9/9/2019).

Sebelum pusaka keraton diserahkan oleh para empu keris kepada Wabup Sumenep, terlebih dahulu dilakukan pembacaan mantra dengan bahasa Jawa dan do’a–do’a lainnya. Selanjutnya keris pusaka keraton diterima Wabup untuk dipastikan bahwa pusaka tersebut dikembalikan dalam keadaan utuh.

Dalam sambutannya, Wabup Ahmad Fauzi menyampaikan, bahwa sejak tahun 2005 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui keris sebagai warisan dunia. Selain itu Sumenep juga dinobatkan sebagai daerah yang memiliki pengrajin keris terbanyak dunia, yakni mencapai 650 orang pengrajin.

“Ditinjau dari beberapa aspek, keris bukan semata identitas masa lalu, tetapi juga menjadi ikon ekonomi yang telah mampu menggerakkan dan menopang perekonomian masyarakat Sumenep,” tuturnya.

Wabup menegaskan, acara tahunan tersebut sebagai upaya untuk mendorong kekuatan kolektif seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengembangkan warisan masa lalu.

Menurutnya, mempertahankan budaya dan tradisi setidaknya dapat dilakukan dengan dua hal, yakni sosialisasi dan atraksi. Dalam sosialisasi caranya dengan menginformasikan sejarah yang dimiliki kepada anak cucu kita sejak dini.

Sementara atraksi adalah dengan memperbanyak kegiatan yang dapat menopang kelestarian budaya leluhur.

“Para pendahulu Sumenep di tengah keterbatasan yang dimiliki telah mewariskan berbagai warisan monumental kepada masyarakat, seperti keraton yang kita tempati saat ini,” katanya.

“Hal itu harus menjadi motivasi kita di era yang serba mudah untuk menciptakan warisan yang monumental, yang kelak akan dinikmati anak cucu kita, puluhan tahun ataupun ratusan tahun mendatang,” tambahnya.

Fauzi berharap, di tengah pembangunan modern dan gempuran modernisasi di segala bidang jangan sampai mengorbankan kekayaan budaya dan kekayaan tradisi yang sudah dipersembahkan oleh para leluhur. (MR/MH)