Nasib Warga Kangean Jelang Lebaran di Atas Kapal Tol Laut

Bertahan dengan Kepanasan dan Kehujanan

0
78
Lantaran panas, penumpang kapal, membuat tenda yang terbuat dari sarung. (Maduraindepth/Eko Darsono)

maduraindepth.com – Suasana Pelabuhan Kalianget, Kabupaten Sumenep, ramai dengan perantau dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Ada yang tampak ceria, ada pula yang melukiskan kesedihan.

Mereka berdesakan masuk kapal bertarif murah. Kapal ini diminati banyak penumpang. Sekitar pukul 08:00 WIB, kapal membunyikan sirinenya. Tanda-tanda kapal sudah siap berangkat. Lambat laun kapal bergerak dan melaju, Selasa (28/5) pagi.

Tapi nahas nasib penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, mereka rela berdiri menyandar. Kerinduan kepada keluarga dan hasrat untuk bertemu mulai berbinar-binar dibenaknya. Terpaksa atau tidak, terpenting mereka pulang kampung dan bertemu keluarga.

Fajri, penumpang asal Kangean harus terpaksa duduk di tempat yang disesaki banyak barang bawaan penumpang. Meski demikian, dia harus menerima kenyataan itu. “Ya begini tempatnya tidak sepatutnya untuk orang, kehujanan, kepanasan, pokoknya, karena tempatnya gak beratap,” tuturnya.

Kapal Tol Laut di Laut Pulau Sapudi

Siang bolong saat kapal berada di laut Pulau Sapudi, awan tebal menyelimuti langit dan hujan mulai berjatuhan. Kerisauan penumpang yang tidak memiliki tempat, mulai terlukis diwajahnya. Lalu mereka sibuk mengurus barang bawaannya agar bisa diselamatkan dari air hujan.

Fajri juga menambahkan, nasib buruknya, lantaran di laut Pulau Sepuda hujan turun, pasalnya dia sibuk mengamankan barang bawaannya agar tidak basah. “Basah kuyup karena hujan turun,” keluhnya.

Moh. Rijalul Ulum penumpang lain mengkritik, nasib buruk yang menimpanya itu tidak lain adalah kesalahan petugas kapal yang tidak melihat banyaknya penumpang. Mereka harus menerima tempat yang tidak layak.

“Petugasnya tidak melihat jumlah penumpang. Semua dibiarkan masuk walaupun nantinya sebagian dari mereka tidak kebagian tempat,” tukasnya.

Di atas kapal, mereka rata-rata tidak berpuasa. sehingga mereka menikmati perjalanan sambil membawa makanan. Merokok diselingi dengan candaan dan obrolan.

Perjalanan itu diperkirakan sekitar 10 jam mulai dari Pelabuhan Kalianget ke Pulau Kangean. Berjam-jam mereka harus kepanasan dan kehujanan.

Penumpang dalam Cengkraman Panas Matahari

Setelah Pulau Sapudi tidak lagi kelihatan dari kapal, panas matahari mulai mengusik kenyamanan penumpang sehingga penumpang harus membuat tenda yang terbuat dari sarung, jaket, dan pakaian-pakaian mereka.

Pulau demi pulau mereka lalui bersama di atas kapal dengan kerasnya panas matahari yang menyengat kulitnya serta ayunan ombak mulai dirasakan, pusing mereka mulai sudah rasakan.

Dari perjuangan selama perjalanan itu, mereka hanya bisa menggantungkan harapannya. Sampai ke kampung halamanya dalam keadaan selamat. (EK/NR)