Hadapi Musim Kemarau di Sampang, BPBD Lakukan Ini

BPBD Sampang
Kepala BPBD Sampang Asroni saat dialog di ruang on air Radio Salsabila FM, Jl. Jaksa Agung Suprapto, No. 123 beberapa waktu lalu. (FOTO: Arief Tirtana/MI)

maduraindepth.com – Bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang mengungkap jumlah bencana yang terjadi di Kota Bahari sepanjang tahun ini.

Kepala BPBD Asroni melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Moh. Imam menyampaikan, jumlah bencana yang terjadi tahun ini lebih tinggi dibanding 2020 lalu. Yakni naik 10 persen.


“Peningkatan itu dialami bencana longsor dan angin puting beliung, soalnya akibat curah hujan yang tinggi di awal-awal 2021,” ungkapnya, Senin (26/4).

Sementara itu, untuk bencana banjir hanya terjadi akibat genangan air. Kendati demikian, pihaknya masih bisa bernafas lega karena tidak terlalu tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya untuk mengantisipasi terjadinya bencana di musim pancaroba yang terjadi saat ini, pihaknya terus melakukan komunikasi bersama seluruh camat di 14 kecamatan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi terjadinya siklon tropis yang menyebabkan kebakaran di beberapa lahan kering.

“Kami sudah konfirmasi ke camat untuk memberikan informasi itu pada desa, apalagi saat ini sudah peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, maka masyarakat harus tetap waspada,” ujarnya memberi atensi.

Antisipasi Bencana Kekeringan di Sampang

Menghadapi musim kemarau tahun 2021 di Kabupaten Sampang, BPBD setempat meminta kepada seluruh camat untuk memetakan desa-desa yang berpotensi menjadi dampak kekeringan. Termasuk desa yang rawan kebakaran akibat kekeringan.

Baca juga:  Soal Santri Tanggap Bencana, Begini Kata Pengasuh Ponpes Assirojiyyah

“Untuk pemetaan kekeringan saat memasuki puncak kemarau, sesuai perintah dari Gubernur Jawa Timur guna didata dan dibuatkan SK tanggap darurat bagi desa yang ada,” jelasnya.

BPBD Sampang menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada, serta paham terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. “Kami akan melakukan sosialisasi secara bertahap, apa yang harus dilakukan masyarakat sebelum terjadinya bencana,” ucapnya.

“Intinya masyarakat harus siap dan tetap waspada sebelum terjadi bencana, bukan waspada setelah bencana terjadi,” pintanya. (Alim/MH)