Festival Tan Pangantanan Sumenep Angkat Tradisi Lokal dan Ekonomi Kreatif

Tan Pangantanan
Peserta Festival Tan Pangantanan 2026 tampil mempesona dan menyedot perhatian penonton. (Foto: Arif Coolbreak/MiD)

maduraindepth.com — Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali menggelar Festival Tan Pangantanan 2026 bertajuk “Dhe’ Nong Dhe’ Ne’nang” pada Ahad, (23/8/2026). Perhelatan yang menampilkan anak-anak dengan busana pengantin adat Madura berbahan daur ulang itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Festival tersebut diikuti 19 regu peserta dari jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang mewakili sejumlah kecamatan di Sumenep. Para peserta mengenakan busana yang dirancang dari bahan daur ulang, kemudian berpawai dari SDN Pajagalan 1 menuju halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, yang hadir mewakili Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, mengatakan Festival Tan Pangantanan merupakan tradisi yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Ia menyebut tradisi tersebut memiliki kekhasan yang membedakannya dari daerah lain di Madura. Karena itu, pemerintah daerah berencana mengurus perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk festival tersebut.

“Festival Tan Pangantanan ini harus kita banggakan. Di daerah lain seperti Pamekasan dan Sampang tidak ada. Adanya di Sumenep,” ujarnya saat membuka festival di depan SDN Pajagalan 1 Sumenep.

Menurut dia, langkah perlindungan HAKI diperlukan agar kekayaan budaya tersebut memiliki pengakuan dan perlindungan secara hukum.

Selain aspek perlindungan budaya, Festival Tan Pangantanan menjadi bagian dari strategi Pemkab Sumenep merawat identitas lokal di tengah perubahan zaman. Anak-anak dilibatkan secara langsung melalui peragaan busana adat khas bangsawan Sumenep.

Baca juga:  Sinergi Disbudporapar dan KPPI Sumenep, Angkat Peran Strategis Perempuan Nelayan Lewat Festival

Pelibatan generasi muda dinilai penting agar tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya.

Festival yang masuk dalam Calendar of Event Sumenep 2026 itu juga memiliki dampak ekonomi. Kehadiran kegiatan publik membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menawarkan produk mereka kepada masyarakat dan pengunjung.

“Dengan adanya event ini, UMKM kita mempunyai ruang untuk menghidupkan perekonomian,” katanya.

Ketua Komunitas Kanca Pendidikan (KKP) Sumenep, Herli Wahyudi, mengatakan penyelenggaraan festival merupakan hasil kolaborasi sejumlah komunitas dan lembaga. KKP bekerja sama dengan Komunitas Edukatif, Responsif dan Inovasi Sumenep (KERIS).

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Sumenep, jajaran kecamatan, serta Konsorsium Pustaka Merdeka Madura (PMM). (*/MH)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *