banner 728x90

Berkat Pengembangan Inovasi Program Eco-edufarming di Desa Bandangdaja, PHE WMO Kembali Raih PROPER Emas 2024

Para Poktan di Desa Bandangdaja, Tanjung Bumi, Bangkalan (Foto: PHE WMO)
banner 728x90

maduraindepth.com – PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) Zona 11 Regional Indonesia Timur, kembali meraih Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan itu diperoleh melalui inovasi Program Eco-edufarming yang dikembangkan di Desa Bandangdaja, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan.

Dalam pencapaiannya PHE WMO melibatkan 28 anggota Kelompok Tani (Poktan) Bumi Sentosa Sejahtera (BSS). Diketahui tahun ini terdapat 4.495 perusahaan yang terdaftar dalam penilaian PROPER, dimana 85 perusahaan mendapat PROPER Emas, 227 perusahaan PROPER Hijau, 2.649 perusahaan PROPER Biru, 1.313 perusahaan PROPER Merah, dan 16 perusahaan dapat PROPER hitam.

banner 728x90 banner 728x90

PHE WMO mengimplementasikan program ini untuk mengatasi lahan kritis yang memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan struktur tanah yang kurang baik, sehingga kurang mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Secara sosial, masyarakat Desa Bandangdaja belum menguasai pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pengelolaan SDA. Sehingga banyak potensi desa yang belum optimal dimafaatkan.

Selain itu, volume limbah kotoran hewan di desa tersebut cukup tinggi. Bahkan masyarakat memiliki ketergantungan memasok bahan pokok dari luar pulau.

Melalui inovasinya, PHE WMO mengubah kemustahilan menjadi keniscayaan. Program ini berhasil meningkatkan produktivitas 6,7 hektare lahan kering dan memanfaatkan 95,8 ton limbah ternak untuk pupuk organik, serta lebih dari 6 ton cocopeat per tahun dimanfaatkan untuk membantu penghematan air dengan menggunakan sistem pertanian regeneratif berbasis teknologi tepat guna.

Baca juga:  [BREAKING NEWS] KLM Sumber Baru Diduga Alami Laka Laut Di Perairan Kalianget Sumenep

Manager WMO Field, M Basuki Rakhmad menyampaikan, bahwa perusahaannya juga memperkenalkan alat soil nutrient sensor kepada masyarakat sekitar, untuk mengukur kandungan nutrisi penting dalam tanah seperti nitrogren, fosfor dan juga kalium. Alat ini membantu petani untuk menyesuaikan pengaplikasian pupuk agar tanaman mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Penggunaan sensor dapat memastikan tanaman petani tumbuh dengan optimal dan hasil panen yang lebih baik dengan tingkat keberhasilan 99,3 persen.

Petani juga diperkenalkan dengan metode rain harvesting, yakni melakukan proses pengumpulan dan penyimpanan air hujan untuk digunakan di kemudian hari, serta menerapkan Atmosfering Harvesting, yang merupakan teknologi untuk mengumpulkan air dari kelembaban udara.

“Kami melalui Eco Edufarming mendiseminasi pengetahuan tentang pembuatan pupuk kompos, pupuk organik cair (POC), mikro organisme lokal (MOL), silase, dan olahan produk pertanian lainnya,” tuturnya, Selasa (25/2).

Ketua Poktan BBS, Marnawi menyampaikan, bawah berkat PHE WMO yang memanfaatkan cadangan air yang surplus sebesar 44 juta meter, dapat menciptakan kesadaran petani untuk menerapkan sistem hemat air.

“Setelah mengenal PHE WMO, masyarakat memperoleh angin segar. Kami diajari bertani secara organik dan menggunakan teknologi tepat guna,” ucapnya.

General Manager Zona 11, Zulfikar Akbar menjelaskan, bahwa kini lebih dari 30 kelompok yang mereplikasi program Eco Edufarming dan lebih dari 140 petani mengakses pengetahuan tentang metode pertanian organik. Selain itu, lebih dari 60 sekolah melalukan kunjungan studi di demplot Eco Edufarming.

Baca juga:  Kepala Kemenag Sampang : Kami Sudah Lakukan Tugas Utama Terkait BOP

“Kami berharap program PHE WMO tidak hanya berguna terhadap penerima manfaat. Lebih dari itu, program yang kami prakarsai diharapkan bisa memberikan multiplier effect memberikan kemanfaatan bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Berawal dari Eco Edufarming, kini petani membudidayakan melon sistem Machida, yakni satu pohon melon dapat menghasilkan lebih dari 20 buah. Upaya ini berhasil mendongkrak pendapatan kelompok hingga Rp 156 juta per tahun.

Keberhasilan program ini juga telah didukung dengan adanya buku pembelajaran terkait dengan pengelolaan pertanian di lahan kering dan juga adanya penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award karena terbukti mendukung agenda internasional Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dan tujuan 15 Ekosistem Daratan.

“Pada akhirnya kami bersyukur, apa yang kami lakukan diganjar oleh penghargaan tertinggi PROPER Emas. Kami menganggap ini sebuah apresiasi tinggi terhadap apa yang dilakukan PHE WMO. Namun lebih dari itu, kami bahagia, karena dengan program ini, kami bisa membersamai masyarakat untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka,” pungkas Zulfikar. (RM/MH)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90