maduraindepth.com – Desa Labuhan, Kabupaten Sampang, menjadi salah satu dari enam desa yang menerima Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran 2025. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan desa melalui pengadaan alat produksi beras premium.
BKK yang diterima Desa Labuhan difokuskan pada pengembangan produksi beras premium dengan merek MANIS. Program ini bertujuan menyerap gabah hasil panen petani, baik dari warga lokal maupun dari luar daerah, agar dapat diolah menjadi beras berkualitas tinggi dengan nilai jual lebih baik.
Kepala Desa Labuhan, Jawahir, mengatakan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong kemandirian ekonomi desa.
“Bantuan BKK ini kami arahkan untuk ketahanan pangan melalui pengadaan alat produksi beras premium. Harapannya, gabah petani tidak lagi dijual mentah, tetapi bisa kami olah sendiri menjadi beras premium berlabel MANIS,” ujar Jawahir.
Dengan adanya alat produksi tersebut, proses pengolahan gabah menjadi beras premium dapat dilakukan secara optimal di tingkat desa. Selain meningkatkan kualitas beras, program ini juga memberikan kepastian pasar bagi petani, sehingga harga gabah lebih stabil dan menguntungkan.
Jawahir menambahkan, beras premium MANIS tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Desa Labuhan, tetapi juga diproyeksikan menjadi produk unggulan desa yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Produksi beras MANIS ini ke depan akan dipasarkan melalui BUMDes. Kami menargetkan pemasarannya bisa menjangkau luar daerah, sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat desa,” tambahnya.
Melalui pengelolaan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), distribusi dan pemasaran beras premium MANIS diharapkan berjalan berkelanjutan. Program ini juga membuka peluang lapangan kerja baru di sektor pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.
Dengan dukungan BKK Provinsi Jawa Timur, Desa Labuhan optimistis mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa berbasis potensi pertanian lokal.(Poer/MH)














