Tiga Korban Kapal Tenggelam Asal Lobuk Belum Ditemukan Hingga Hari Keempat

Kapal Tenggelam
Petugas Satpolair Polres Sumenep melakukan pencarian korban kapal tenggelam di perairan Pulau Gili Genting Sumenep, Kamis (18/2). (Foto: Satpolair for MI)

maduraindepth.com – Upaya pencarian tiga korban kapal tenggelam asal Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep terus dilakukan sampai dengan Kamis (18/2). Hingga hari keempat, ketiga korban masih belum ditemukan.

Kasatpolair Polres Sumenep Iptu Agung Widodo menjelaskan, upaya pencarian melibatkan petugas gabungan. Meliputi satu tim anak buah kapal (ABK) KN SAR Antasena, BPBD Sumenep, Polsek Bluto, Satpolair Polres Sumenep, Syahbandar Sumenep, dan nelayan setempat.


Agung memaparkan, pihaknya melakukan pemetaan lokasi sesuai SAR Map yang akan di sisir dengan menentukan rute wilayah perairan Pinggirpapas, perairan Takat Gemer Giligenting, dan perairan Takat Kokop Gili Labak dengan koordinat 7° 06′ 43″ LS 113° 54′ 47″ BT — 7° 11′ 18″ LS 113° 58′ 21″ BT — 7° 13′ 34″ LS 113° 58′ 18″ BT.

Kemudian Kapal Polisi X-1037 BKO Ditpolairud Polda Jatim melakukan penyisiran SAR Map dengan rute wilayah perairan Giligenting dan perairan Giliraja dengan koordinat 7°09’58” LS 113°57’38” BT — 7°13’16” LS   113°42’59″BT.

“Kita lihat perkembangannya . Mudah-mudahan cepat ditemukan,” ucapnya.

Perlu diketahui, sebanyak 14 anak buah kapal (ABK) termasuk nahkoda kapal yang tenggelam di perairan Pulau Gili Genting ditemukan selamat, Senin (15/2). Kapal milik H. Syaiful Hidayat asal Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep itu semula diduga mengalami kecelakaan laut (Laka Laut) akibat cuaca buruk, Minggu (14/2) malam.

Baca juga:  Pasca Putusan MK, KPU Sampang Tetapkan Kursi dan Calon Terpilih DPRD

KM Brazil 2 diketahui membawa sebanyak 17 orang. Kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan Lobuk Kecamatan Bluto untuk mencari ikan ke perairan Timur Laut Pulau Gilingan, Kecamatan Gili Genting, Sumenep.

Kemudian sekitar pukul 21.00, tiba-tiba terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Cuaca buruk itu memicu terjadinya ombak dengan ketinggian sekitar 3 meter dan menghantam KM Brazil 2. Akibatnya, kapal yang dinahkodai H. Hesam itu digulung ombak susulan hingga mengakibatkan lambung kapal pecah. (BAD)