Sejumlah SMA/SMK di Sumenep Belum Terima Bantuan TisTas, Ini Sebabnya

0
51
Sugiono Eksantoso, Kepala Cabang Dinas Kab. Sumenep. (MR/MI)

maduraindepth.com – Guna mendukung program pendidikan yang berkualitas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) di tahun 2019 memberikan pendidikan gratis dan berkualitas (TisTas) berupa Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) terhadap SMA/SMK se-Jawa Timur. Termasuk juga lembaga pendidikan tingkat SMA/SMK yang ada di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Namun sayang, hingga akhir bulan Agustus program tersebut belum bisa dinikmati oleh para siswa, karena sejumlah sekolah setempat ijin operasionalnya sudah mati.

“Sampai saat ini program TisTas yang berupa BPOPP yang dari Provinsi Jawa Timur itu juknisnya masih belum turun, karena ketika disuruh menyerahkan buku rekening dan semacamnya, pihak sekolah belum nyerahkan juga,” kata Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Sumenep, Sugiono Eksantoso. Sabtu (31/8/2019).

Parahnya, program yang diperuntukkan untuk awal pelajaran baru tahun 2019 kemarin ini, malah tidak efektif seutuhnya.

“Iya benar, tapi karena kenyataannya, selain banyak yang belum menyerahkan buku rekening. Juga harus ada ijin operasional, sementara ijin operasionalnya banyak yang mati,” katanya.

Sugiono menjelaskan, untuk di Kabupaten Sumenep baik di daerah daratan dan kepulauan ada enam Sekolah yang masih belum menyerahkan buku rekening tersebut

“Masih tinggal 6 Sekolah yang belum menyerahkan. Sebab ijin operasionalnya itu sudah lama mati. Dan yang banyak itu Sekolah Swasta,” terangnya.

Yang menjadi faktor kendala lanjut Sugiono, banyak sekolah yang belum mengurus ijin operasionalnya. “Katanya ngurus ijin operasionalnya mahal, padahal selama saya disini gak pernah narik biaya. Ya itu jadi tersendat, ini sudah mau masuk bulan September,” ungkapnya.

Hal itu terjadi kata Sugiono karena pengurus lembaga pendidikan tidak ada niat untuk mendirikan sekolah, hanya saja sekolah dibuat untuk mencari uang.

“Iya karena gak niat mendirikan sekolah, sekolah hanya dibuat cari uang,” pungkasnya. (MR)