Ribuan Guru Honorer di Pamekasan Hanya Terima Gaji Rp 300 Ribu

0
32
Guru Honorer
Ketua PGRI Pamekasan, Mohammad Sahid saat ditemui di Gedung Peringgitan Mandhapa Aghung Pamekasan, Madura. (Foto: RUK/MI)

maduraindepth.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengeluh. Pasalnya ribuan guru honorer di Pamekasan hanya digaji Rp 300 ribu per bulan.

Ketua PGRI Pamekasan, Mohammad Sahid mengatakan, kesejahteraan guru honorer di Kota Gerbang Salam itu sampai saat ini masih terombang-ambing. Disebutkan, jumlah guru honorer tersebut mencapai 4 ribu. Sementara gaji yang diterima hanya sebesar Rp 300 ribu per bulan.

Menurutnya, besaran gaji tersebut tidak sebanding dengan pengabdian yang diberikan oleh ribuan guru honorer itu. Apalagi para guru honorer mengajarnya sebulan penuh.

“Ada sekitar 4 ribu guru honorer di Pamekasan yang menerima gaji Rp 300 ribu per bulan,” ungkapnya, Jum’at (20/12/2019).

Selama ini, kata Mohammad Sahid, gaji yang diterima guru honorer itu tidak layak. Melihat para guru honorer itu, dia merasa kasihan lantaran kesejahteraannya yang masih terombang-ambing.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, pada setiap lembaga pendidikan yang tersebar di Kabupaten Pamekasan nyaris kekurangan guru. “Tapi yang full masuk ngajar 24 jam dalam satu minggu itu banyak. Hampir setiap sekolah di Pamekasan gurunya tidak lengkap dan kekurangan guru,” jelasnya.

“Kalau di Kecamatan Pademawu dan di daerah Pantura itu masih banyak juga kekurangan guru,” imbuhnya.

Maka dari itu, lanjut Mohammad Sahid, pihaknya meminta agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (Mendikbud RI) serta Pemkab Pamekasan betul-betul memperhatikan nasib guru honorer di Indonesia khususnya di Pamekasan.

“Kesejahteraan guru honorer juga dapat meningkatkan profesionalisme dan integritas seorang guru. Saya merasa kasihan. Mereka yang mau berhenti gimana, karena mereka sudah terlanjur komitmen dengan siswa,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Mohammad Sahid menyebut, peran guru honorer dalam memajukan pendidikan di Indonesia memiliki andil yang cukup signifikan. Begitu pula di Kabupaten Pamekasan.

“Para guru honorer di Pamekasan, rata-rata lulusan S1 dan S2 dari Universitas ternama yang dalam segi keilmuan mereka lebih mampu namun belum balance dengan kesejahteraan yang mereka dapat. Jadi kalau guru sejahtera, maka pendidikan akan berjaya. Bagi saya pendidikan itu panglima masa depan. Kemajuan generasi muda masa depan bergantung guru saat ini,” bebernya. (RUK/MH)