banner 728x90

Sri Cicik Handayani Bakal Gelar Tur “Kèjhung Lintas Terop”

Sri Cicik seniman sumenep kejhung lintas terop
Foto bersama setelah tampil di Biennale Yogyakarta 2025. (Foto: IST)

maduraindepth.com – Seniman serba bisa, Sri Cicik Handayani asal Kabupaten Sumenep kembali melakukan lompatan artistik dalam melestarikan budaya Madura. Setelah sukses dengan rangkaian riset dan pementasan sepanjang 2025, Cicik kini mempersiapkan proyek seni ambisius bertajuk “KÈJHUNG LINTAS TEROP” yang dijadwalkan menyapa publik pada Juni 2026 mendatang.

Secara etimologi, Kèjhung dalam bahasa Madura berarti nyanyian, sementara Terop merujuk pada tenda pertunjukan rakyat. Proyek ini bukan sekadar pementasan biasa, melainkan sebuah tur pertunjukan dan lokakarya yang terinspirasi dari pola hidup perempuan Tandhak dan kesenian Tayub Madura yang berpindah dari satu panggung ke panggung lain.

Bagi Sri Cicik, mobilitas perempuan Tandhak dari satu terop ke terop lainnya adalah proses penyebaran pengetahuan. Dalam tur ini, dia tidak hanya bertindak sebagai koreografer, tetapi juga sebagai fasilitator yang menghubungkan jejaring kreatif lintas disiplin.

“Kèjhung Lintas Terop diharapkan menjadi ruang temu antara tradisi dan eksperimen, sekaligus jembatan kolaborasi untuk membaca narasi perempuan tandhak dalam konteks kontemporer,” ungkapnya saat di wawancarai oleh Madura Indepth.

Gagasan tur ini merupakan kristalisasi dari riset panjang Cicik. Sepanjang tahun 2025, dia tercatat telah melahirkan beberapa karya monumental, di antaranya:

  • Juni 2025: Mementaskan Tandhak dalam Rokat Pangantan, sebuah rekonstruksi ritual pernikahan adat Madura yang hak ciptanya telah terdaftar secara resmi.
  • Juli 2025: Tampil di ajang bergengsi ArtJog Performance dengan karya berjudul Atandhâng.
  • September 2025: Menghadirkan pameran instalasi dan pertunjukan Papangghiyân di Biennale Yogyakarta.
Baca juga:  Amankan Natal dan Tahun Baru, TNI-Polri Kedepankan Tindakan Preemtif-Preventif

Melalui rangkaian karya tersebut, Sri Cicik Handayani membuktikan bahwa akar tradisi Madura tidak harus statis. Dengan membuka dialog bersama seniman lintas disiplin, ia membawa isu identitas, ekspresi perempuan, dan perubahan sosial ke ruang publik yang lebih luas.
Tour “KÈJHUNG LINTAS TEROP” nantinya akan menjadi muara dari seluruh refleksi tersebut sebuah upaya untuk memastikan bahwa nyanyian dari bawah terop tetap relevan dan terus bergema di tengah perubahan zaman. (*)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *